Kompetitor Red Hat Bukan Produsen, Tapi Persepsi Masyarakat

Lufthi Anggraeni    •    Selasa, 05 Sep 2017 18:42 WIB
red hatcyber security
Kompetitor Red Hat Bukan Produsen, Tapi Persepsi Masyarakat
Red Hat sebut kesalahpahaman terkait definisi open source di masayarakat sebagai kompetitor utamanya.

Metrotvnews.com, Jakarta: Persaingan di ranah software mungkin tidak kentara oleh masyarakat seperti persaingan di ranah produk. Namun, hal tersebut tidak berarti perusahaan di bidang itu tidak mengalami persaingan ketat dalam menjalani usaha mereka.

Persaingan ini juga dirasakan Red Hat sebagai salah satu perusahaan software berbasis open source di Indonesia. Hanya saja, Red Hat memiliki persaingan yang berbeda jika dibandingkan dengan perusahaan lain, seperti yang disampaikan Country Manager Red Hat Indonesia, Rully Moulany, hari ini, Selasa (5/9/17), di Mega Kuningan.

"Pesaing utama Red Hat bukanlah produk yang dibuat oleh perusahaan lain, ataupun perusahaan kreator tersebut. Pesaing utama Red Hat justru hadir di masyarakat, dalam bentuk persepsi dan pemahaman yang berbeda terkait dengan software open source itu sendiri," ujar Rully.

Saat ini masih banyak masyarakat yang menilai software open source lebih tidak aman dan lebih mudah diretas. Penilaian tersebut disebabkan oleh kesalahpahaman terkait definisi keterbukaan yang dimiliki oleh software tersebut. Sebagian besar masyarakat menilai software bersifat terbuka dalam artian terdapat celah sehingga mudah diretas.

Padahal menurut Rully tidak demikian. Rully menjelaskan, software hasil open source dibuat dengan menggunakan metodologi terbuka dan transparan, sehingga memungkinkan pengembang dan pengguna mengetahui komposisi bahan baku berupa kode yang terkandung di dalam software tersebut.

Dalam produk yang ditawarkan Red Hat, lanjut Rully, keamanan bukan menjadi fitur yang ditambahkan setelah produk tersebut selesai. Namun, keamanan menjadi salah satu fokus utama, yang dibangun secara lapis demi lapis pada setiap tahap pembuatannya, sehingga lebih dapat menjamin keamanan software tersebut.

Sementara itu, saat disinggung terkait insiden serangan ransomware Wannacry dan Petya yang terjadi pada bulan Juli lalu, Rully menyebut hal tersebut tidak berdampak terhadap popularitas software open source ataupun Red Hat.

Menurutnya, upaya yang telah dilakukannya di pasar Indonesia telah cukup membantu dalam membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap software open source.


(MMI)