Google tak Mau Ciptakan AI untuk Senjata

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 08 Jun 2018 16:33 WIB
googlekecerdasan buatan
Google tak Mau Ciptakan AI untuk Senjata
CEO Google, Sundar Pichai. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)

Jakarta: Google telah merilis daftar peraturan untuk membantu mereka dalam mengembangkan kecerdasan buatan atau AI. Ini sesuai janji yang mereka buat setelah keterlibatan mereka dalam proyek drone pengawas dari Departemen Perlindungan Dalam Negeri Amerika Serikat menuai kontroversi. 

Dokumen yang berjudul "Artificial Intelligence at Google: our principles" ini menyebutkan bahwa Google tidak akan mengembangkan AI untuk digunakan pada senjata.

Selain itu, mereka juga membahas tentang peraturan umum terkait AI, menyebutkan isu tentang privasi dan pengawasan manusia, lapor The Verge

Meskipun prinsip baru ini melarang Google mengembangkan AI untuk senjata, mereka menyebutkan bahwa Google masih akan terus bekerja sama dengan pihak militer "di berbagai bidang lain".

Juru bicara Google menyebutkan, jika peraturan ini dirilis lebih cepat, kemungkinan Google tidak akan terlibat dalam proyek drone Pentagon, yang menggunakan AI untuk menganalisa video rekaman pengawasan. 

Memang, proyek dari Pentagon tidak menggunakan AI untuk menjadikan drone sebagai senjata. Namun, juru bicara Google menganggap, menggunakan AI untuk menganalisis video pengawasan juga terlalu berbahaya, mengimplikasikan bahwa ke depan, Google akan lebih berhati-hati dalam memilih proyek militer yang mereka kembangkan. 

Selain melarang pengembangan AI untuk senjata, prinsip baru ini juga menyebutkan bahwa Google tidak akan mengembangkan AI untuk proyek pengawasan yang akan "melanggar norma internasional" atau proyek-proyek yang tidak sesuai dengan "HAM dan hukum internasional yang diterima secara luas".

Perusahaan internet raksasa itu menyebutkan bahwa riset AI mereka akan fokus pada proyek yang menguntungkan masyarakat.

"Di Google, kami menggunakan AI untuk membuat produk menjadi lebih berguna -- dari email yang bebas spam dan lebih mudah untuk dibuat, asistem digital yang bisa berbicara dengan natural dengan Anda, sampai foto yang menampilkan hal-hal yang Anda sukai," tulis CEO Google Sundar Pichai dalam sebuah blog post. 

"Kami sadar bahwa teknologi yang hebat ini menimbulkan pertanyaan besar tentang penggunaannya. Bagaimana AI dikembangkan dan digunakan akan memiliki dampak yang signifikan pada masyarakat dalam waktu bertahun-tahun di masa depan. Sebagai pemimpin di bidang AI, kami merasa bertanggung jawab untuk memastikan teknologi AI digunakan dengan benar."


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.