Tak Mau Ditinggal Pengguna, Aplikasi Harus Bisa Diandalkan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 01 Aug 2018 19:26 WIB
teknologif5 networkscorporatetransformasi digital
Tak Mau Ditinggal Pengguna, Aplikasi Harus Bisa Diandalkan
Fetra Syahbana, Country Manager F5 Indonesia.

Jakarta: Perusahaan sibuk untuk melakukan transformasi digital beberapa tahun belakangan. Di satu sisi, transformasi digital bisa membuat perusahan untuk menjadi lebih efektif dan memudahkan perusahaan menjangkau konsumennya. Di sisi lain, transformasi digital memiliki tantangan tersendiri.

Transformasi digital identik dengan pembuatan aplikasi oleh perusahaan. Menurut survei yang diadakan oleh F5 di Asia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pelanggan berhenti menggunakan sebuah aplikasi.

Sebanyak 58 persen responden mengatakan bahwa mereka akan berhenti menggunakan aplikasi jika aplikasi itu pernah diserang dan data pribadi pengguna bocor karena serangan itu.

Sementara 55 persen mengatakan mereka benci aplikasi yang tidak bisa diandalkan, misalnya aplikasi yang mendadak terhenti setiap beberapa detik.

Sebanyak 43 persen responden membenci pengalaman penggunaan yang tidak menyenangkan. Pengalaman pengguna memang memiliki peran penting tentang pandangan pengguna terhadap sebuah aplikasi. Empat puluh persen resonden berhenti menggunakan aplikasi karena waktu loading yang lama.



Inilah salah satu masalah yang coba diatasi oleh F5. Tujuan F5 adalah untuk membantu perusahaan klien membuat aplikasi yang tidak hanya cepat, tapi juga aman dan bisa dipercaya.

Di era ekonomi digital ini, masyarakat memang semakin menggantungkan diri pada aplikasi pada smartphone miliknya.

Fetra Syahbana, Country Manager F5 Indonesia mengatakan, kini, F5 memposisikan diri sebagai perusahaan application services. Dia membanggakan, 5 operator terbesar dunia dan 10 merek terpopuler di dunia menggunakan layanan F5.

Sebagai perusahaan application services, kini F5 dapat menyasar perusahaan di berbagai industri, mulai dari telekomunikasi hingga e-commerce. Fetra menyebutkan, tren transformasi digital tidak bisa dibendung.

"Semua perusahaan berusaha pindah ke cloud. Kami akan membantu klien untuk pindah, untuk memastikan bahwa performa dan fungsi aplikasi mereka tidak berubah," kata Fetra.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.