30 Negara Gunakan Pasukan Pembentuk Opini Demi Curangi Demokrasi

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 15 Nov 2017 11:43 WIB
media sosialteknologi
30 Negara Gunakan Pasukan Pembentuk Opini Demi Curangi Demokrasi
Ilustrasi.

Metrotvnews.com: Pemerintah dari 30 negara di dunia menggunakan pasukan yang disebut "pembentuk opini" untuk memengaruhi hasil pemilu, melakukan agenda anti-demokrasi dan menekan masyarakat mereka, menurut sebuah laporan terbaru. 

Berbeda dengan Rusia yang dilaporkan berusaha untuk mengubah hasil pemilihan umum di negara lain, menurut US NGO Freedom House, kebanyakan negara-negara ini menggunakan internet untuk memanipulasi opini masyarakatnya sendiri, lapor The Guardian

"Taktik manipulasi dan informasi salah memegang peran penting dalam pemilu di setidaknya 17 negara dalam waktu satu tahun belakangan, merusak kebebasan masyarakat untuk memilih pemimpin mereka berdasarkan fakta nyata dan debat yang sebenarnya," tulis organisasi yang didanai oleh pemerintah Amerika Serikat tersebut.

"Meskipun sebagian pemerintah berusaha untuk memperluas pengaruh mereka di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Rusia di AS dan Eropa, kebanyakan pemerintah menggunakan metode ini untuk mempertahankan kekuasaan mereka di dalam negeri."
 

NEW REPORT: Government interference of social media causes 7th year of global decline in #NetFreedomhttps://t.co/RKqB6G3eEP #NetFreedom2017 pic.twitter.com/HuS9ya73s0

— Freedom House (@FreedomHouseDC) November 14, 2017

Bahkan di negara-negara yang tidak memiliki pemilu, manipulasi media sosial pada tahun lalu tetap tinggi. Dari 65 negara yang NGO Freedom House survei, 30 negara ditemukan menggunakan "pasukan pembentuk opini" untuk "menyebarkan pandangan pemerintah, mendorong agenda tertentu dan melawan kritik pada pemerintah di media sosial."

Beberapa negara yang melakukan itu adalah Venezuela, Filipina dan Turki. Dalam 30 negara yang melakukan ini, ditemukan indikasi bahwa pemerintah membayar para individu untuk menyebarkan informasi secara digital untuk mendukung pemerintah. Individu-individu tersebut tidak menyebutkan bahwa konten yang mereka buat itu disponsori. 

Jumlah negara yang menggunakan metode ini naik sejak laporan pertama dibuat pada 2009. Pada 2016, hanya ada 23 neara yang menggunakan metode manipulasi informasi ini. Sementara belakangan, metode tersebut tidak hanya digunakan oleh lebih banyak negara, tapi juga menggunakan teknik yang lebih canggih.

Teknik-teknik yang digunakan seperti penggunaan bot, pembuat konten propaganda dan media palsu yang mengeksploitasi media sosial dan algoritma pencarian untuk memastikan mereka dapat menjangkau audiens yang luas. Konten palsu ini juga dibuat terintegrasi dengan konten yang bisa dipercaya. 


(MMI)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

11 hours Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /