Tingkatkan Mutu, Operator dan Pemerintah Tata Ulang Pita Frekuensi

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 06 Feb 2018 20:39 WIB
kominfotelekomunikasi
Tingkatkan Mutu, Operator dan Pemerintah Tata Ulang Pita Frekuensi
Ilustrasi.

Jakarta: Penataan ulang frekuensi radio 2,1GHz kini memasuki minggu ke-12. Dimulai pada 21 November tahun lalu, penataan pita frekuensi atau refarming pertama kali dilakukan oleh Indosat di kawasan Kalimantan Tengah dan Kepualauan Bangka Belitung.

Penataan ulang dilakukan setelah operator-operator telekomunikasi dan pemerintah setuju untuk melakukan refarming setelah seleksi dilakukan untuk menentukan operator yang berhak atas pita 2,1GHz. 

Dua operator yang akhirnya ditetapkan boleh menggunakan pita 2,1GHz tersebut adalah Indosat pada blok 12 dan Hutchison 3 Indonesia (H3I) atau Tri pada blok 11. Tujuan refarming adalah mengoptimalkan penggunaan pita frekuensi.

Seperti yang dapat Anda lihat pada gambar di bawah, sebelum proses penataan pita frekuensi, pita frekuensi radio baru yang didapatkan oleh Tri dan Indosat tidak menyambung dengan frekuensi yang telah mereka miliki. 


Gambar: Kominfo. 

Dengan membuat pita yang digunakan oleh para operator saling menyambung, maka hal ini akan dapat membantu operator untuk mengatasi masalah jaringan yang mampat karena terlalu padat. Jika masalah ini bisa diselesaikan, maka pelanggan juga akan mendapatkan layanan telekomunikasi yang lebih baik. 

Untuk menata pita frekuensi, pemerintah dan operator saling bekerja sama. Melalui Direktorat Penataan Sumber Daya, Direktorat Pengendalian SDPPI, dan UPT Bidang Monitor Spektrum Frekuensi Radio, pemerintah memastikan bahwa dua blok frekuensi yang akan digunakan oleh Tri dan Indosat memang sudah bebas dari gangguan dan sudah bisa digunakan. Proses refarming ini juga didampingi oleh BRTI. 

Salah satu masalah yang biasa dihadapi dalam proses penataan pita frekuensi adalah BTS yang menjadi non-aktif atau data administrasi jaringan yang tidak cocok. Bencana alam, seperti ketika Gunung Agung meletus, juga bisa menjadi masalah. Untungnya, kejadian itu tidak menghalangi proses refarming di Bali. 

Refarming yang mencakup 42 wilayah ini memerlukan waktu 156 hari, melibatkan 8.000 BTS milik 3 operator telekomunikasi. Diharapkan, proses penataan pita frekuensi ini akan selesai pada 25 April mendatang. 


(MMI)

Nokia 2, Smartphone Paling Terjangkau dari HMD
Review Smartphone

Nokia 2, Smartphone Paling Terjangkau dari HMD

1 week Ago

Nokia 2 merupakan smartphone kelas pemula dari HMD. Ini ulasan tentang kelebihan dan kelemahann…

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.