Data 57 Juta Pelanggan Uber Dicuri Hacker

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 22 Nov 2017 10:44 WIB
uber
Data 57 Juta Pelanggan Uber Dicuri Hacker
Tahun lalu, Uber jadi korban serangan siber. (AFP PHOTO / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / JUSTIN SULLIVAN)

Jakarta: Uber menjadi korban penyerangan siber pada Oktober tahun lalu. Serangan itu mengekspos data pribadi dari 57 juta pengguna dan pengendara, ungkap Uber hari ini dalam pernyataan resmi.

Uber bukan hanya salah karena tidak melaporkan peretasan itu, tapi juga karena mereka berusaha menutupinya. Mantan CEO Travis Kalanick telah diberitahukan tentang serangan itu satu bulan setelah ia terjadi, tapi serangan itu tidak dipublikasikan.

Faktanya, serangan tersebut ditutupi oleh Chief Security Officer Joe Sullivan dan anak buahnya, memaksa Uber memecat sang eksekutif dan salah satu bawahannya minggu ini. 

Uber dikabarkan membayar tebusan pada para hacker USD100 ribu (Rp1,35 miliar) agar mereka menghapus data yang tercuri dan tidak memberitahukan terjadinya serangan itu pada media atau pihak regulator.

"Hal ini seharusnya tidak terjadi, dan saya tidak akan membuat alasan," kata CEO Uber Dara Khosrowshahi, yang menggantikan Kalanick pada September lalu. "Kami akan mengubah cara kami dalam berbisnis."

Uber dikabarkan menolak untuk mengidentifikasi sang penyerang. 

Dalam serangan ini, para hacker berhasil mendapatkan nama, alamat email dan nomor ponsel dari lebih dari 50 juta pengguna Uber di dunia. Sementara itu, bagi 7 juta pengendara Uber, selain informasi tersebut, data mereka yang tercuri adalah nomor SIM.

Bloomberg menyebutkan, pada saat penyerangan, Uber tengah berbicara dengan regulator Amerika Serikat terkait masalah pelanggaran privasi lain dan baru saja selesai membahas masalah cara penanganan data konsumen pada Komisi Dagang Federal (FTC). 

Semua ini mendorong Sullivan menutupi serangan tersebut demi menghindari masalah baru. Peretasan ini ditemukan setelah dewan direktur Uber mengadakan investigasi pada tim Sullivan bulan lalu. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.