Pendiri WhatsApp Keluar dari Perusahaan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 01 May 2018 10:44 WIB
facebookwhatsapp
Pendiri WhatsApp Keluar dari Perusahaan
CEO WhatsApp Jan Koum. (Photograph by David Ramos—Getty Images)

Jakarta: Salah satu pendiri dan CEO WhatsApp Jan Koum memutuskan untuk keluar dari perusahaan karena memiliki pendekatan yang berbeda dengan perusahaan induk Facebook terkait privasi data dan model bisnis aplikasi buatannya. 

Koum, bersama dengan pendiri WhatsApp lainnya, Brian Acton, menjual WhatsApp pada Facebook pada 2014 seharga USD19 miliar (Rp265 triliun). Sekitar USD3 miliar (Rp41,8 triliun) di antaranya merupakan saham Facebook yang diberikan pada Koum.

Acton telah memutuskan keluar dari perusahaan pada September lalu. Koum mengonfirmasi keputusannya untuk pergi melalui post Facebook, lapor The Verge. Dalam unggahannya, Koum tidak membahas tentang masalah di WhatsApp.

Ini mengimplikasikan bahwa Koum tidak percaya terkait bagaimana Facebook mengatur privasi data pengguna dan juga enkripsi data mereka. 

"Saya pergi di waktu ketika orang-orang menggunakan WhatsApp dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tim WhatsApp kini menjadi sangat kuat dan mereka akan terus melakukan hal-hal hebat," kata Koum. 

"Saya mengambil waktu untuk mencoba melakukan hal lain yang saya suka selain teknologi, seperti mengutak-atik mobil-mobil saya dan bermain frisbee. Saya masih akan terus mendukung WhatsApp -- dari luar. Terima kasih untuk semua orang yang memungkinkan saya melewati perjalanan ini," ujarnya. 

CEO Facebook, Mark Zuckerberg membalas post buatan Koum. "Jan, saya akan merindukan bekerja sama dengan kamu," katanya.

"Saya berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk menghubungkan dunia dan semua yang kamu ajarkan pada saya, termasuk enkripsi dan kemampuannya untuk memindahkan kekuatan dari sistem terpusat dan mengembalikannya ke tangan masyarakat. Nilai-nilai itu akan tetap menjadi fokus dari WhatsApp."

Baik Koum dan Acton merupakan penasehat privasi. Keduanya berjanji bahwa mereka akan tetap melindungi privasi pengguna WhatsApp ketika mereka mengumumkan penjualan ke Facebook empat tahun lalu.

Itu artinya, keduanya tidak pernah ingin mewajibkan pengguna mengintegrasikan akun WhatsApp mereka dengan akun Facebook. 

Namun, Facebook mendorong WhatsApp untuk mengubah beberapa peraturannya tahun lalu agar mereka bisa mendapatkan akses ke nomor ponsel milik pengguna WhatsApp.

Selain itu, Facebook juga mendorong dibuatnya profil gabungan dari pengguna produk-produk mereka -- Facebook, WhatsApp dan Instagram -- agar profil itu bisa digunakan untuk mengumpulkan data pengguna dan iklan tertarget. 

Model bisnis WhatsApp menjadi salah satu hal yang Koum perdebatkan dengan Facebook. Media sosial raksasa itu ingin menghapuskan biaya berlangganan USD0,99 (Rp13 ribu) per tahun untuk meningkatkan jumlah pengguna dan ingin menggantungkan diri pada iklan untuk meraup pendapatan. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.