Grab dan Uber Kena Denda dari Singapura, Kenapa?

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 24 Sep 2018 15:14 WIB
ubergrab
Grab dan Uber Kena Denda dari Singapura, Kenapa?
Ilustrasi.

Jakarta: Komisi pengawas konsumen dan persaingan usaha Singapura atau CCCS (Competition and Consumer Commision Singapore) baru saja menjatuhkan sanksi denda sebesar USD9,5 juta (Rp141 miliar) kepada Grab dan Uber, seperti yang dikutip dari CNET.

Secara terpisah, CCCS menjatuhkan nilai sanksi kepada Uber sebesar SGD6,58 juta (Rp71,7 miliar) dan Grab sebesar SGD6,42 juta (Rp69,9 miliar). Sanksi ini dikenakan karena CCCS menilai penyatuan atau merger Grab-Uber yang dirampungkan Grab pada bulan Maret merusak persaingan layanan ride-hailing di negara tersebut.

Meskipun CCCS memberikan denda pada Grab dan Uber, mereka tidak bisa membatalkan proses merger kedua perusahaan.

Pada bulan Maret lalu, Grab mengakuisisi saham Uber sebesar 27,5 persen. Keesokannya, CCCS langsung melakukan investigasi terkait keputusan tersebut untuk mengetahui apakah transaksi itu melanggar kebijakan anti-monopoli.

Dikutip dari Channel NewsAsia, dari investigasinya, CCCS menemukan bahwa tarif layanan Grab sempat melonjak setelah Uber sebagai pesaing resmi mundur dari pasar transportasi online di Asia Tenggara.

Setelah kesepakatan akuisisi Uber oleh Grab, tarif perjalanan tanpa promosi naik sekitar 10 sampai 15 persen. Temuan CCCS diperkuat oleh keluhan dari pengguna layanan maupun mitra pengendara yang memprotes kenaikan tarif serta komisi mereka yang tidak sepadan.

CCCS memerintahkan Uber untuk menjual armada kendaraannya melalui layanan leasing atau rental kendaraan Lion City Rentals untuk bisa dimanfaatkan oleh pesain bisnis baru yang potensial. Selain itu, CCCS melarang Uber menjualnya langsung kepada Grab.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa pihak Uber maupun Grab tengah memprotes keputusan CCCS ini karena keduanya meyakini proses akuisisi dan merger dilakukan sesuai hukum yang berlaku dan mereka tidak memiliki tujuan untuk merusak iklim persaingan yang sehat.


(ELL)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.