Pergelutan Huawei Melawan Stigma Produk Tiongkok

Yogi Bayu Aji    •    Sabtu, 07 Jul 2018 09:52 WIB
huawei
Pergelutan Huawei Melawan Stigma Produk Tiongkok
Ilustrasi: Medcom.id

Shenzhen: Produk buatan Tiongkok kerap mendapatkan stigma negatif dari publik. Barang yang dibuat dinilai berkualitas rendahan dibandingkan dengan hasil pabrikan negeri Eropa atau bahkan Jepang.

Masalah ini juga dialami Huawei, perusahaan asal 'Negeri Tirai Bambu' yang fokus pada teknologi informasi dan komunikasi. Huawei perlu memutar otak lebih untuk meyakinkan klien hingga konsumen bila produknya lebih unggul dari merek lain.

Jim Xu, Presiden Pemasaran dan Penjualan Huawei Consumer Business Group, berbagi kisah bagaimana perkembangan perusahaannya dalam dua delade terakhir. Xu bergabung di Huawei sejak 5 Juli 1997.

"Dulu karyawan ada empat ribu, sekarang ada ratusan ribu," kata Xu pada APAC Media China Trip 2018 di Huawei Headsquare di Shenzhen, Tiongkok, Kamis, 5 Juli 2018.

Pada 2000-an, Xu bertugas mengembangkan sayap bisnis Huawei di Asia hingga Eropa. Dia memulai dari nol untuk memperkenalkan produk Huawei kepada pasar luar negeri.

"Di Eropa saya ditanya, 'Siapa Huawei? Kenapa saya harus beli barang Anda?' Saya harus meyakinkan mereka," jelas dia.

Xu mengaku terus mendekati mereka demi mencoba produk Huawei. Dia memastikan bahwa produk yang dihasilkan berasal dari hasil riset mendalam yang serius.

Kini, kata dia, Huawei dianggap merek kelas atas di Eropa. Dia menyebut di Finlandia sampai Italia, Huawei segara menjadi nomor satu dalam hal pangsa pasar.




Investasi di riset

Clement Wong, Kepala Pemasaran Produk Global Huawei, mengatakan perusahaan telah menghubungkan sepertiga populasi dunia. Ini adalah hasil dari jaringan kuat produk yang Huawei buat.

Menurut dia, salah satu kunci bertahan di bisnis ini adalah dengan terus mengembangkan riset. Pasalnya, industri informasi dan komunikasi selalu berubah.

"Ada penemuan soal listrik, internet, lalu apa selanjutnya? Ini yang kita sebut intelligent world. Semua berubah, ini kesempatan baik mengubah hidup menjadi lebih digital," jelas dia.

Huawei, kata Wong, banyak berinvestasi pada bidang riset dan pengembangan. Pada 2017 saja, Huawei mengucurkan €10,4 miliar (Rp1.753 triliun) di bidang ini.

Lebih dari 10 persen pendapatan tahunan Huawei diinvestasikan dalam riset. Dalam 10 tahun terakhir, investasi riset Huawei mencapai USD62,5 miliar. Huawei menempati peringkat 6 dalam Top 10 Global R&D Investment Company.

Wong menerangkan di bidang riset, Huawei telah mengalahkan Apple. Tahun lalu, Apple tercatat menganggarkan €9,5 miliar untuk riset dan pengembangan.

Dia menjelaskan Huawei memiliki 15 pusat riset di belahan dunia. Fasilitas itu terdapat di Tiongkok, Korea, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.

Wong pun meyakinkan ponsel pintar dan produk lain buatan Huawei adalah hasil pemikiran banyak pakar di seluruh dunia. Satu ponsel pintar Huawei, kata dia, adalah buah tangan dari ribuan ahli di 15 pusat riset di belahan dunia.

"Made in China bukan hal buruk. Poinnya kita tak boleh mengubah diri, mengatakan bukan made in China. Tapi, konsumen peduli produknya, bukan dibuat di mana. Produk kami baik, kami melayani di 150 negara," pungkas Wong.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.