Vendor Ponsel Perang Harga, Tidakkah Samsung Khawatir?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 08 Jun 2018 08:20 WIB
samsung
Vendor Ponsel Perang Harga, Tidakkah Samsung Khawatir?
Samsung Galaxy S9. (Medcom.id)

Jakarta: Qualcomm dikenal sebagai perusahaan pembuat prosesor mobile. Perusahaan asal Amerika Serikat itu memiliki beberapa lini prosesor, mulai dari lini 200, 400, 600, sampai 800.

Semakin tinggi seri sebuah prosesor, semakin canggih pula prosesor tersebut. Karena itulah, smartphone premium biasanya menggunakan Snapdragon seri 800, seperti 845, 835, 820 dan seterusnya. 

Ponsel premium biasanya memiliki spesifikasi terbaik dengan harga yang juga mahal. Lain halnya dengan ponsel kelas menengah, yang memaksa perusahaan untuk menyeimbangkan antara spesifikasi dan harga.

Xiaomi dikenal karena berani memberikan ponsel dengan spesifikasi cukup tinggi dengan harga terjangkau. Hanya dengan harga Rp3 juta, Anda bisa mendapatkan Snapdragon 636, RAM 4GB dan memori internal 64GB dengan membeli Xiaomi Redmi Note 5.

ASUS belakangan juga mulai mengikuti langkah Xiaomi. Ponsel primadona ASUS, ZenFone 5Z memiliki harga paling mahal Rp7,5 juta dan Anda sudah mendapatkan Snapdragon 845, RAM 8GB serta memori internal 256GB.

Sebagai perbandingan, smartphone premium Samsung, Galaxy S9 menggunakan prosesor Exynos 9810, RAM 4GB dan memori internal 64GB dengan harga Rp11,5 juta. 


Samsung Galaxy S9 (kiri) vs ASUS ZenFone 5Z (kanan).

Ini menunjukkan adanya perbedaan harga yang cukup jauh antara ponsel buatan Samsung dengan pesaingnya pada kelas yang sama. Ini tidak hanya terjadi pada kelas premium, tapi juga kelas menengah. 

Memang, saat ini, Samsung masih jadi perusahaan ponsel nomor satu di Indonesia. Tapi, tidakkah Samsung khawatir pangsa pasarnya akan tergerus?

"Pemain baru masuk itu wajar. Pasar Indonesia memang mengiurkan. Masyarakat di Indonesia bisa mengganti ponsel setiap enam bulan sekali," kata Product Marketing Manager, Samsung Electronics Indonesia, Irfan Rinaldi saat ditemui dalam acara unboxing Galaxy A6 dan A6+. 



Irfan menyebutkan, banyaknya opsi konsumen adalah hal yang bagus. "Kita terdorong untuk memberikan pilihan yang lebih baik," katanya. Dia lalu menjelaskan, Samsung berusaha untuk memberikan sesuatu yang lebih pada konsumennya. Karena, dia menganggap, pembelian ponsel tidak berakhir ketika ponsel sampai di tangan konsumen. 

"Samsung selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas after sales," kata Irfan. Dia memberikan contoh Galaxy Gift dan Samsung Member sebagai contoh. Galaxy Gift adalah aplikasi yang fokus untuk menawarkan diskon sementara Samsung Member memungkinkan pengguna untuk memeriksa keadaan ponselnya, seperti memeriksa keadaan baterai ponsel. 

Selain itu, aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur Live Chat, memungkinkan pengguna untuk menghubungi agen customer service Samsung secara langsung. Dalam aplikasi ini, juga terdapat fitur tips dan trik. 

"Spesifikasi tinggi tidak menjamin pengalaman penggunaan yang lebih baik," kata Irfan. Dia mencontohkan, hasil foto sebuah kamera tidak hanya ditentukan oleh besar resolusi kamera tersebut, tapi juga hal-hal lain seperti besar aperture dan jenis sensor. 

Irfan sadar, hal itu akan sulit untuk disampaikan melalui iklan, terutama karena adanya batasan waktu. "Di sinilah peran promoter Samsung di toko," ujar Irfan. 

Dia menjelaskan, orang-orang yang sudah tertarik untuk membeli ponsel Samsung, telah melihat iklan dan telah mencari artikel review terkait ponsel tersebut, mereka akan datang ke toko untuk membeli ponsel. Di sini, para promoter diharapkan akan bisa memberikan penjelasan yang lebih lengkap terkait kelebihan ponsel Samsung. 


Salah satu ponsel kelas menengah Samsung, Galaxy A6. (medcom.id)

Selain itu, Samsung juga berusaha untuk menanamkan fitur-fitur unik sebagai pembeda. Mengingat Samsung kini masih memegang posisi nomor satu dalam pasar smartphone Indonesia, tampaknya strategi mereka bekerja dengan cukup baik. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.