KPU: Siapapun Berkampanye di Medsos Harus Pikir Panjang

Lufthi Anggraeni    •    Kamis, 18 Oct 2018 14:14 WIB
teknologi
KPU: Siapapun Berkampanye di Medsos Harus Pikir Panjang
KPU menyebut seluruh pelaku yang terlibat kampanye di media sosial perlu berpikir panjang sebelum menyampaikan informasi.

Jakarta: Maraknya kehadiran informasi palsu atau dikenal hoaks menjadi salah satu masalah yang tengah beredar subur di kalangan masyarakat, terutama pada media sosial.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menilai peredaran informasi ini dapat ditangani dengan dengan sejumlah cara.

"Kampanye itu seperti komunikasi. Problemnya ada di media penyampai informasi kampanye itu sendiri. Berbeda dengan media konvensional yang memiliki tim redaksional sebagai filter, pengguna media sosial justru harus lebih pintar karena tidak punya tim khusus," ujar Komisioner KPU Hasyim Asyari.

Selain itu, lanjut Hasyim, media konvensional turut memiliki batasan yang diatur oleh undang-undang terkait dengan penyampaian informasi, terutama menyoal kampanye. Hal ini tidak dimiliki oleh pengguna media sosial secara umum.

Karenanya, pengguna media secara umum disarankan untuk menerapkan sensor diri, yang mengharuskan mereka untuk lebih teliti dalam memilah dan memilih informasi yang akan diunggah.

Dengan kata lain, pengguna media sosial harus berpikir panjang sebelum menyampaikan pesannya ke pengguna media sosial lainnya.

Sementara itu, Anggota Bawaslu RI Mochammad Afifuddin mengaku turut memantau kampanye yang disampaikan via media sosial selama masa kampanye ini berlangsung.

Meskipun demikian, Afifudin menyebut berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Mabes Polri terkait dengan penindakan situs dan akun bermuatan kampanye negatif.

Sebab menurutnya, penindakan tersebut merupakan ranah yang menjadi hak Kemenkominfo, serta badan siber di Mabes Polri. Afif menyebut instansinya lebih mengawasi konten yang diusung oleh pihak yang berkampanye.

Jika konten mengusung SARA dan mengancam keutuhan NKRI, Afif menyebut instansinya bertanggung jawab dalam menindak.

Sementara itu disinggung soal kehadiran akun di media sosial yang juga menyampaikan pesan kampanye, Afif menilai, selama akun tidak berisi ujaran kebencian, maka akun media sosial ini merupakan medium yang dapat dimanfaatkan kaum milenial dalam memperoleh pendidikan terkait dengan politik yang terjadi di Indonesia.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.