Setelah AS, ZTE Kembali Berbisnis di Indonesia

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 23 Jul 2018 17:24 WIB
telekomunikasizte
Setelah AS, ZTE Kembali Berbisnis di Indonesia
Salah satu kantor ZTE. (Johannes Eisele/AFP)

Jakarta: Dalam pernyataan resmi yang diberikan ZTE, perusahaan teknologi telekomunikasi sekaligus smartphone asal Tiongkok tersebut menyatakan kembali berbisnis di Indonesia pasca pencabutan larangan berbisnis di Amerika Serikat.

Setelah awal tahun ini ZTE mendapatkan larangan berbisnis dari Depatermen Perdagangan Amerika Serikat dan kemudian dicabut pad atanggal 13 Juli 2018, ZTE sempat menunda kerja sama bisnisnya dengan beberapa mitranya, termasuk yang di Indonesia.

ZTE menyatakan kembali melanjutkan kerja samanya dengan Telkom yang mencakup multi-domain jaringan Telkom di seluruh Indonesia. ZTE juga menandatangani komitmen baru untuk fixed network dan core network yang menunjukkan bahwa kerja sama terus berlanjut.

"ZTE telah menerapkan solusi infrastruktur untuk Telkom Indonesia sejak 2004. Selama masa pelarangan dari Departemen Perdagangan AS terhadap ZTE, Telkom sangat bersabar dalam melanjutkan kemitraan kami," jelas Sales Director ZTE Indonesia, Yan Changzhi.

"Kami sangat menghargai dukungan dan kepercayaannya, kami sangat ingin memberikan teknologi dan solusi terbaik kepada Telkom," imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa ZTE menerima hukuman dari Departemen Perdagangan karena menjual produk dan layanan ke Korea Utara dan Iran. Sementara itu, Korea Utara dan Iran merupakan dua negara yang mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat.

Akibatnya, selain membayarkan denda senilai USD1,9 miliar (Rp27,3 triliun), ZTE juga diperintahkan mengganti file dari 35 pegawai yang terlibat transaksi ilegal dengan kedua negara tersebut, dan menahan pembayaran bonus untuk pegawai yang sama.

ZTE juga menerima hukuman dalam bentuk pelarangan ekspor dari Amerika Serikat selama tujuh tahun. Departemen Perdagangan dilaporkan mempertahankan pelarangan tersebut hingga ZTE terbukti tidak lagi mematuhi hukuman.

President Amerika Serikat juga dilaporkan terlibat dalam situasi ZTE dengan menginstruksikan Departemen Perdagangan untuk melakukan kesepakatan dengan ZTE guna mencabut hukuman pelarangan, dan kesepakatan tersebut telah tercapai.

ZTE membayarkan denda senilai USD1 miliar (Rp14,3 triliun), dan dana simpanan senilai USD400 juta (Rp5,7 triliun) untuk kurun waktu 10 tahun untuk membayarkan denda yang mungkin akan muncul akibat pelanggaran yang dilakukannya di masa mendatang.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.