AS Mundur dari Perjanjian Nuklir, Iran Siapkan Serangan Siber?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 14 May 2018 19:22 WIB
cyber security
AS Mundur dari Perjanjian Nuklir, Iran Siapkan Serangan Siber?
Iran diduga akan lakukan serangan siber sebagai balas dendam.

Jakarta: Setelah Amerika Serikat memutuskan untuk mengundurkan diri dari perjanjian nuklir, Iran mungkin akan menyerang balik dengan serangan siber, kata para ahli keamanan siber.

Menurut riset yang diadakan perusahaan keamanan Recorded Future, Iran akan melakukan serangan siber "dalam hitungan bulan, atau justru lebih cepat." Riset itu menjelaskan, Iran akan menggunakan pihak ketiga dan juga universitas untuk melakukan serangan siber pada target asing, lapor ZDNet

Mantan orang dalam yang tahu tentang operasi serangan siber Iran berkata, serangan ini kemungkinan akan dilakukan oleh pihak ketiga. Itu artinya, serangan tersebut memiliki kemungkinan lebih besar menjadi tidak terkendali. 

Minggu lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya untuk mengundurkan diri dari perjanjian nuklir dengan Iran.

Dalam perjanjian itu, negara-negara Barat berjanji untuk tidak memberikan sangsi ekonomi pada Iran asalkan mereka membatasi program nuklir mereka. Badan verifikasi nuklir PBB mengatakan bahwa Iran telah mematuhi perjanjian tersebut. 

Meskipun tidak ada bukti atau informasi yang menunjukkan bahwa Iran tengah mempersiapkan serangan siber, para peneliti berkata bahwa berdasarkan aktivitas siber Iran di masa lalu, mereka memprediksi kemungkinan Iran melakukan serangan siber cukup tinggi. 

"Kami memperkirakan, dalam waktu beberapa bulan, atau justru lebih cepat, perusahaan Amerika di sektor finansial, infrastruktur kritikal, minyak dan energi akan menghadapi serangan siber yang agresif dan berbahaya yang dilakukan oleh pelaku yang didukung oleh Iran," kata Priscilla Moriuchi, mantan analis NSA yang kini bekerja di Recorded Future. 

"Iran mungkin akan menggunakan kontraktor yang kurang bertanggung jawab secara politik dan hasilnya, lebih sulit untuk dikendalikan," ujarnya. Negara-negara yang menjadi sekutu AS dan Eropa -- seperti Arab Saudi dan Israel -- juga terancam menjadi target serangan. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.