Gagal Capai Kesepakatan, Yonder Indonesia Berhenti Beroperasi

Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 30 Mar 2018 12:08 WIB
xl
Gagal Capai Kesepakatan, Yonder Indonesia Berhenti Beroperasi
Yonder mengumumkan penghentian operasionalisasinya di Indonesia.

Jakarta: Yonder, aplikasi streaming musik, mengumumkan penghentian operasionalisasi bisnisnya di Indonesia. Penghentian tersebut diakibatkan oleh kegagalan Yonder dalam mencapai kesepakatan dengan XL Axiata dan Universal Music.

XL Axiata dan Universal Music dinilai Yonder sebagai kunci utama mereka dalam menghadirkan investasi di pasar Indonesia. Selain itu, Yonder juga menyebut bahwa proses negosiasi yang dilakukan ketiga perusahaan tersebut telah melampaui batas waktu yang ditetapkan.

Dalam pengumumannya, selain meminta maaf kepada pelanggannya, Yonder mengaku tengah mencari cara agar tetap dapat menghadirkan pengalaman mendengarkan musik menyenangkan kepada pelanggannya.

Namun, penutupan hingga batas waktu tidak ditentukan ini diakui Yonder tidak menghapuskan semangatnya untuk kembali merambah pasar Indonesia.

Yonder berjanji menemukan opsi lain terkait kemitraan yang memberikannya peluang kembali ke pasar Indonesia. Sebab Yonder meyakini bahwa Indonesia merupakan pasar strategis untuk layanan streaming.



Dengan dukungan tim hebat di Indonesia, Yonder mengaku optimis layanannya akan dapat menghadirkan pengalaman terbaik untuk pasar Indonesia saat kembali nanti.

Tidak hanya di Indonesia, kegagalan mencapai kesepakatan dengan Axiata juga mempengaruhi kerja sama Yonder di negara lain lokasinya beroperasi, termasuk Malaysia, Bangladesh, Sri Lanka, dan Nepal.

Sebagai informasi, Yonder merambah pasar Indonesia pada bulan Mei 2016 lalu, menggandeng XL Axiata sebagai mitra eksklusif. Berkat kemitraan ini, jumlah pengguna Yonder di Indonesia terdongkrak mencapai 1,8 juta orang per Februari 2018 tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Bali.

Sejak pengumuman resmi penghentian layanannya di sejumlah negara tersebut, aplikasi Yonder tidak lagi dapat diakses ataupun diunduh oleh pengguna via Google Play dan App Store.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.