Belum Ada Hukum Komprehensif Terkait Perlindungan Data

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 11 Apr 2018 15:26 WIB
media sosialfacebookCambridge Analytica
Belum Ada Hukum Komprehensif Terkait Perlindungan Data
Wakil Ketmua Komisi 1 DPR RI, Satya Widya Yudha. (Medcom.id)

Jakarta: Penyalahgunaan data pengguna dalam skandal Cambridge Analytica diharapkan akan bisa mendorong pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.

Saat ditemui di DPR, Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI, Satya Widya Yudha mengatakan bahwa karena RUU PDP belum disahkan, pemerintah kini "tidak memiliki hukum komprehensif yang bisa melindungi data pengguna."

Menurut penjelasan Satya, data pribadi yang diharapkan akan bisa dilindungi oleh UU PDP adalah semua data yang ada di media sosial.

"Data di media sosial tidak boleh dibagikan atau dijual ke pihak ketiga," ujarnya. "Harus ada consent (persetujuan) dari pengguna." 

Sayangnya, saat ini, RUU PDP belum masuk ke dalam Prolegnas. Satya mengatakan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara telah mengatakan bahwa dia telah berusaha mengajukan RUU PDP sebagai prioritas yang harus disahkan sejak 2016.

Meskipun begitu, hingga saat ini, Undang-Undang untuk melindungi data masyarakat itu masih belum disahkan. 

"Kita harus sadar, bahwa data Anda dan perusahaan, yang sekarang ini mudah dibagikan melalui media sosial, adalah lahan bisnis," kata Satya. "Nah, inilah yang harus kita lindungi."

Dia sadar, pengguna sudah menandatatangani persyaratan penggunaan ketika mendaftar di Facebook. Tapi, dia juga tahu bahwa tidak semua pengguna Facebook mengerti akan persyaratan yang Facebook ajukan. 

Satya mengatakan dia tidak bisa menerima begitu saja jika masyarakat dimanfaatkan karena ketidaktahuan mereka. "Kita betul-betul dibohongi dengan sistem canggih dan orang tidak menyadari hal ini. Mereka senang-senang saja," kata Satya.

Ke depan, Satya mengungkap, dia ingin menekan Facebook untuk menjelaskan langkah apa saja yang mereka ambil setelah diketahui bahwa ada "kebocoran" data. Facebook juga diminta untuk memastikan apakah data pengguna Indonesia yang bocor itu telah dimanipulasi.

Jika Facebook mengatakan data pengguna aman, mereka diminta untuk menunjukkan buktinya. "Data pengguna ditransaksikan tidak dari Cambridge Analytica ke lembaga survei di Jakarta mislanya," kata Satya. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.