Samsung Bisa Kena Denda Hingga Rp16,7 Triliun?

Lufthi Anggraeni    •    Senin, 18 Jun 2018 11:14 WIB
samsung
Samsung Bisa Kena Denda Hingga Rp16,7 Triliun?
Samsung dilaporkan menghadapi potensi denda besar akibat terbukti bersalah terkait pelanggaran paten.

Jakarta: Pada bulan lalu, Samsung diperintahkan untuk membayarkan denda kepada Apple bernilai USD538,6 juta (Rp7,5 triliun) akibat melakukan pelanggaran terhadap paten milik Apple, terkait dengan desain iPhone.

Kini, Samsung kembali menerima hukuman setelah terbukti bersalah terkait penggunaan paten perusahaan lain tanpa izin.

Pelanggaran paten tersebut dilaporkan oleh perwakilan Universitas Korea Selatan di Amerika Serikat, mendorong juri di pengadilan federal memutuskan bahwa Samsung melakukan pelanggaran terhadap paten Amerika Serikat terkait dengan teknologi FinFET.

Jumlah denda yang harus dibayarkan Samsung kepada Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST IP US) bernilai USD400 juta (Rp5,5 triliun).

Karena juri memutuskan bahwa Samsung melanggar paten dengan sengaja, hakim juga memiliki opsi mengajukan tuntutan terkait kerusakan parah.

Tuntutan tersebut akan mampu melipatgandakan jumlah denda yang harus dibayarkan Samsung sebanyak dua kali lipat, menjadi USD1,2 miliar (Rp16,7 triliun). Selain Samsung, Qualcomm dan GlobalFoundries Inc juga dilaporkan melakukan pelanggaran pada paten yang sama.

Qualcomm dan GlobalFoundries Inc mampu terbebas dari tuntutan hukum tersebut tanpa perlu membayarkan denda. FinFET merupakan teknologi yang digunakan dalam desain prosesor yang menggunakan gerbang elektroda berbentuk serupa sirip ikan.

Teknologi ini memungkinkan sejumlah gerbang terbuka pada transistor tunggal, dan memungkinkan prosesor meningkatkan performa serta mengurangi konsumsi energi pada chip yang berukuran lebih kecil. Menurut keluhan, Samsung menolak penggunaan FinFET pada awalnya, dan menganggapnya sebagai sebuah tren.

Namun, dokumen yang didaftarkan menyebut bahwa Samsung mengubah pikirannya saat Intel mendaftarkan lisensi FinFET untuk chipset karyanya. Samsung membantah pelanggaran tersebut, menyebut bahwa perusahaannya telah bekerja sama dengan universitas untuk mengembangkan FinFET.

Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini juga menambahkan bahwa perusahaannya menyakini paten tersebut tidak valid dan mempertimbangkan untuk mengajukan banding ke pengadilan.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.