Generasi Milenial Indonesia Kurang Peduli Buku dan Politik

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Sabtu, 04 Nov 2017 16:10 WIB
media sosial
Generasi Milenial Indonesia Kurang Peduli Buku dan Politik
Roby Muhamad Ph.D, co-founder Yogrt.

Metrotvnews.com, Jakarta: Hanya 9 persen dari milenial akar rumput di Indonesia yang tertarik dengan politik, menurut studi yang dilakukan oleh Yogrt, aplikasi media sosial berbasis lokasi.

Dalam studi ini, Yogrt juga menemukan bahwa generasi muda akar rumput di Tanah Air enggan untuk mengambil risiko meski mereka terbuka akan pemikiran baru. Menariknya, satu nilai yang dijunjung tinggi oleh para milenial itu bukanlah pencapaian diri, tapi kebersamaan. 

Milenial akar rumput yang dimaksud oleh Yogrt adalah mereka yang masuk ke dalam rentang umur 15-34 tahun dengan penghasilan rumah tangga di bawah Rp5 juta per bulan. Yogrt melakukan studi ini pada 5.000 penggunanya sebagai responden.

Studi Yogrt 2017: Milenial Akar Rumput Indonesia menggabungkan dua metode, yaitu survei demografi online dan "Portrait Values Questionnaire" formulasi psikolog Shalom H. Schwartz. Metode pertama digunakan untuk mencari tahu minat responden sementara metode kedua digunakan untuk mencari tahu tentang karakter psikografis. 

Schwartz dikenal karena membuat rumusan 10 nilai yang menjadi motivasi individu. Sepuluh nilai tersebut antara lain kekeluargaan/kebersamaan, kesejahteraan, kemandirian, stabilitas, tradisi, keseragaman, hedonisme, stimulasi, pencapaian/prestasi diri dan kekuasaan. 

Selain politik, generasi milenial akar rumput Indonesia tidak menunjukkan ketertartarikan atas buku atau literatur.

Menurut studi Yogrt, hanya 7 persen responden yang tertarik dengan topik buku. Hiburan menjadi topik yang paling digemari dengan 45 persen responden mengaku tertarik dengan musik dan 30 persen dengan film. Subjek agama juga menarik perhatian 28 persen responden. 



"Meski demikan, perlu digarisbawahi bahwa minat terhadap agama tampaknya bukan akibat dorongan ideologis, tetapi lebih karena keinginan bersosialisasi," kata Roby Muhamad, co-founder Yogrt dan sosiolog bidang jejaring sosial. "Ini terlihat dari ideologis konservatif yang ada di bawah nilai kekeluargaan/kebersamaan."

“Milenial akar rumput Indonesia berseberangan dengan kelompok umur serupa di Amerika yang lebih memprioritaskan nilai-nilai individualisme: pencapaian diri dan kekuasaan. Uniknya lagi, mereka pun ternyata berbeda dengan anggapan umum tentang ‘generasi Y’ yang tergolong challenge seeker. Sebaliknya, meski sama-sama terbuka terhadap ide atau pemikiran baru, kalangan muda khas Tanah Air ini cenderung enggan terhadap risiko,“ katanya. Dia menjelaskan, alasannya adalah karena nilai kemandirian yang cukup tinggi yang tidak diimbangi dengan nilai stimulasi yang seimbang. 

Terkait penggunaan internet, studi Yogrt menemukan bahwa sebanyak 67 persen generasi milenial akar rumput menggunakan internet untuk bersosialisasi baik melalui media sosial atau aplikasi chatting. Selain itu, internet juga banyak digunakan untuk mencari informasi (47 persen) dan hiburan -- dengan 41 persen responden memilih untuk mendengarkan musik sementara 30 persen lainny amenonton film.

Namun, hanya sedikit responden yang telah aktif melakukan kegiatan berbelanja online dan melakukan transaksi perbankan masih sangat rendah, yaitu 15 persen dan 8 persen. 


(MMI)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

1 day Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /