Perangi Kecanduan Ponsel, Mahasiswa Protes ke Toko Apple

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 06 Mar 2018 09:01 WIB
apple
Perangi Kecanduan Ponsel, Mahasiswa Protes ke Toko Apple
Mahasiswa Standford University yang melakukan protes di depan toko Apple area kampusnya yang kerap dikunjungi oleh petinggi Apple. (THE STANFORD DAILY/Sophie Regan)

Jakarta: Meskipun peranan ponsel pintar sangat terasa bagi penggunanya, hal ini juga dibarengi dengan dampak negatif. Salah satunya adalah kecanduan pada perangkat tersebut.

Hal ini yang kemudian memicu sekelompok mahasiswa dari Standford University berunjuk rasa di depan toko Apple yang ada di area kampus, dikutip dari The Standford Daily.

Mahasiswa yang mengatasnamakan Stanford Students Against Addictive Devices (SSAAD) atau yang memerangi adiksi perangkat ponsel, meminta Apple harus lebih fokus terhadap hal ini dengan melakukan perubahan, misalnya memodifikasi fitur di sistem operasi iOS.

Unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa jurusaan ilmu komputer dan kesehatan ini mengutip hasil riset tahun 2016 dari Common Sense Media terhadap 1.240 responden dari usia 12 hingga 18 tahun.

Riset tersebut memaparkan bahwa 50 persen remaja mengakui memiliki kecanduan terhadap ponsel pintar mereka, termasuk orang tua yang 69 persen di antaranya juga memiliki kecanduan untuk selalu mengecek ponsel mereka setiap jam. Akhirnya, baik orang tua dan anaknya sibuk dengan ponsel masing-masing.



Dalam pamflet yang dibagikan mereka dalam unjuk rasa, konsekuensi dari kecanduan tersebut mulai berdampak terhadap tingkat stres, hubungan relasi penggunanya, serta menurunnya produktivitas.

Meskipun mereka tidak menuduh Apple memanfaatkan kecanduan ini untuk bisnis modelnya, tetapi mahasiswa pengunjuk rasa beralasan Apple bisa mengatasi masalah adiksi ini dengan memodifikasi teknologi di perangkatnya.

Para pengunjuk rasa mengajukan tiga poin yang harus dilakukan Apple. Pertama menyediakan fitur yang menampilkan informasi pemakaian ponsel pada setiap penggunanya termasuk notifikasi bahwa mereka mulai mengalami adiksi tau kecanduan.

Kedua adalah mode khusus yang hanya menampilkan notifikasi yang dianggap penting pada ponsel pengguna. Kemudian poin ketiga adalah menyediakan mode khusus yang hanya menyajikan fitur atau ungsi penting dari ponsel untuk membantu pengguna ponsel menurunkan tingkat kecanduannya.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.