Microsoft: AI Bisa Bantu Perusahaan Cegah Serangan Siber

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Sabtu, 26 May 2018 14:25 WIB
microsoftcyber securitykecerdasan buatan
Microsoft: AI Bisa Bantu Perusahaan Cegah Serangan Siber
Ilustrasi.

Jakarta: Potensi kerugian ekonomi yang disebabkan oleh serangan siber di Indonesia bisa mencapai USD34,2 miliar atau sekitar Rp481 triliun, menurut studi yang dilakukan oleh Frost & Sullivan. 

Meskipun hanya 19 persen responden studi melihat investasi keamanan sebagia pembeda bisnis mereka, 84 persen responden sudah mulai memeprtimbangkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai pertahanan dari berbagai serangan siber. 

Mengingat AI memakan biaya yang tidak sedikit, muncul pertanyaan siapa saja yang bisa menggunakan teknologi tersebut.

"Cloud membuat teknologi AI bisa diakses oleh semua perusahaan, baik perusahaan kecil atuapun besar," kata Tony Seno Hartono, National Technology Officer of Microsoft Indonesia. 

Pria yang akrab dengan panggilan Tony ini kemudian menjelaskan bagaimana AI bisa membantu pelaku bisnis dalam melindungi sistem mereka dari ancaman siber.

"Semua produk Microsoft, baik untuk laptop, smartphone atau cloud, memiliki sensor. Ketika pengguna mengalami masalah atau menghadapi serangan siber saat menggunakan produk itu, maka log terkait serangan tersebut akan dikirimkan ke Microsoft," katanya. 

"Log ini tidak berisi data pribadi pengguna," kata Tony menenangkan kekhawatiran terkait masalah privasi. "Data yang dikirimkan sudah dibuat anonim. Isi log tersebut hanya informasi seperti jenis serangan, waktu serangan, apa dampak serangan pada CPU, memori dan aplikasi."

Tony mengatakan, Microsoft menerima jutaan "alarm" setiap hari. Data ini kemudian dianalisa untuk mengetahui tentang serangan siber.

Setelah Microsoft menemukan cara untuk mengatasi masalah tersebut, maka mereka akan mengirimkan informasi terkait pencegahan itu pada produk-produknya yang digunakan oleh pengguna. 

"Tapi, jika serangan terlalu canggih, maka informasinya akan dikirimkan pada malware hunter," kata Tony. Dia menyebutkan, Microsoft memiliki 3.500 orang yang bertugas sebagai "malware hunter" di seluruh dunia.

"Dari situ, kita bisa tahu apakah ada kegiatan spionase siber yang sedang dilakukan, apakah sebuah serangan disponsori oleh satu negara untuk menyerang negara lain dan lain sebagainya."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.