Retas ATM, Dua Pria Ini Ditangkap

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 07 Feb 2018 16:37 WIB
cyber security
Retas ATM, Dua Pria Ini Ditangkap
Ilustrasi.

Jakarta: Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah menyatakan dua pria bersalah atas penipuan bank karena keduanya diduga telah meretas mesin ATM, menyebabkan mesin tersebut mengeluarkan semua uang yang tersimpan di dalamnya.

Serangan yang disebut "jackpotting" ini biasanya dilakukan oleh pelaku yang berpura-pura menjadi teknisi ATM. Mereka kemudian memasukkan software atau hardware jahat, sementara pihak lain akan menarik uang pada ATM. 

Alex Alberto Fajin-Diaz, pria berumur 31 tahun asal Spanyol, dan Argenys Rodriguez, pria berumur 21 tahun dari Massachusetts ditangkap pada 27 Januari. Para penyelidik menghubungi polisi yang menemukan Fajin-Diaz dan Rodriguez dekat dengan ATM yang mengeluarkan uang USD20-an.

Ketika polisi mengecek kendaraan kedua pria tersebut, mereka menemukan "alat dan perangkat elektronik yang diperlukan untuk meretas ATM". Selain itu, polisi juga menemukan uang senilai lebih dari USD9 ribu (Rp122 juta).

Menurut Ars Technica, penyelidikan awal menyebutkan bahwa ATM telah mengeluarkan uang sebanyak USD50 ribu (Rp678,1 juta). 

Laporan dari jurnalis keamanan, Brian Krebs menjelaskan tentang metode jackpotting. Para pencuri yang berpura-pura menjadi teknisi biasanya menggunakan alat endoskopi untuk menemukan bagian dalam dari ATM sebelum menghubungkan komputer ATM ke laptop mereka menggunakan kabel. 

ATM kemudian akan menunjukkan pesan "tak berfungsi" dan uang yang dikeluarkan melalui ATM bisa dikendalikan dari jauh.

Para pencuri bisa memaksa mesin ATM untuk mengeluarkan uang, yang kemudian akan dikumpulkan oleh orang lain. ATM yang berdiri sendiri dan terletak di apotek atau toko besar paling berisiko untuk diserang. 

Menurut Departemen Kehakiman, badan penegak hukum telah menyelidiki serangan siber ke ATM di Conneticut, Hamden, Guilford dan Rhode Island. Orang yang melakukan penipuan pada bank terancam hukuman penjara maksimal selama 30 tahun. 

Biasanya, metode jackpotting dilakukan untuk menyerang ATM di Eropa, Meksiko dan Asia. Namun, minggu lalu, ATM di seluruh AS telah kehilangan lebih dari USD1 juta (Rp13,6 triliun) akibat jackpotting


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.