Uber: Transportasi Online Ciptakan Solusi dan Manfaat

Cahyandaru Kuncorojati    •    Rabu, 01 Nov 2017 16:20 WIB
uber
Uber: Transportasi Online Ciptakan Solusi dan Manfaat
Layanan transportasi online seperti Uber dinilai menciptakan solusi dan manfaat

Metrotvnews.com, Jakarta: Kehadiran layanan transportasi online di Indonesia terus menjadi perbincangan, apakah layanan tersebut menggeser moda layanan tranportasi konvensional atau tidak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Uber dengan The Boston Consulting Group, ditemukan bahwa layanan tersebut lebih banyak menghadirkan solusi dan manfaat.

Uber bersama The Boston Consulting Group hari ini (1/11/2017) mengumumkan hasil penelitina bersama yang memperkuat pandangan bahwa kehadiran layanam ridesharing memang dibutuhkan untuk memecahkan solusi kemacetan dan transportasi yang ada di negara dan kota-kota berkembang.

"Kami melakukan penelitian bersama The Boston Consulting Group untuk mengkaji potensi manfaat dari layanan ridesharing secara luas di kota-kota se-Asia, termasuk Jakarta. Dari hasil penelitian tersebut, diperoleh hasil bahwa layanan yang kami tawarkan lebih banyak menghadirkan dampak positif ketimbang negatif," tutur tutur Head of Public Policy and Government Affairs Indonesia, John Colombo.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh The Boston Consulting Group terhadap manfaat adopsi layanan ridesharing di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Singapura, Bangkok, Hong Kong, Taipei, Ho Chi Minh, Hanoi dan Manila, ditemukan bahwa layanan ini memberikan dampak positif terhadap masalah lingkungan, transportasi, dan perekonomian.

"Di Jakarta saja tercatat ada lebih dari 4 juta mobil di Jakarta. Untuk menampung semuanya dibutuhkan lahan parkir seluas 24.000 lapangan sepakbola. Apabila tingkat kemacetan terus meningkat di Jakarta maka bukan tidak mungkin jika di tahun 2022 Jakarta mengalami macet total," jelas Managing Director The Boston Consulting Group (BCG), Mariam Jafaar.

Menurut Mariam kehadiran layanan ridesharing juga diklaim bisa menekan angka kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi sehari-hari. Dia menyebutkan, layanan transportasi online bisa mengurangi angka penggunaan kendaraan pribadi sebanyak 40-70 persen.

Di Jakarta sendiri, layanan ridesharing dipercaya bisa mengurangi 60 persen jumlah mobil yang ada di jalanan saat ini atau setara dengan 2,5 juta kendaraan. Hasilnya, jumlah kebutuhan lahan parkir juga bisa semakin berkurang, dan beralih menjadi 14.600 lapangan sepak bola.

Bahkan lebih jauh lagi disebutkan bahwa 40 persen responden tidak akan membeli mobil dalam kurun waktu 5 tahun ke depan jika layanan ridesharing bisa memenuhi kebutuhan mereka. Bagi pengguna mobil pribadi, kehadiran layanan transportasi online juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Sekitar 25-33 persen responden pemilik mobil mengaku sangat memanfaatkan layanan ini untuk menambah penghasilan.

"Untuk mencapai dampak yang lebih maksimal lagi, tentunya layanan ridesharing jangan hanya menjadi satu-satunya solusi. Solusi yang sebenarnya tetap saja layanan ridesharing harus berkolaborasi dengan layanan transportasi publik yang sudah ada." 

"Hal ini semakin wajib diterapkan bagi negara atau kota yang layanan transportasinya belum sempurna. Layanan ridesharing bisa menjadi penghubung antar moda layanan transportasi. Di satu sisi, layanan ridesharing juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk bisa lebih berperan aktif dalam memecahkan  masalah kemacetan dan menyediakan solusi yang lebih baik bagi layanan transportasi di Jakarta," tutur Mariam.


(MMI)