Berapa Kontribusi Paten Teknologi Terhadap PDB Negara?

Mohammad Mamduh    •    Rabu, 09 May 2018 10:41 WIB
qualcomm
Berapa Kontribusi Paten Teknologi Terhadap PDB Negara?
Julie G. Welch, Vice President of Government Affairs, South East Asia Pacific & Taiwan, Qualcomm International, Inc.

Jakarta: Menurut penelitian yang dilakukan Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), perekonomian Indonesia dapat terhindar dari middle income trap dengan mengembangkan ekosistem paten sektor TIK yang lebih baik. 
 
Penelitian yang berkolaborasi dengan Qualcomm ini berjudul “Peran Investasi Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Paten terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”.

Lebih jauh, studi ini juga menunjukkan adanya dampak positif dari modal pengetahuan (knowledge capital) terhadap perekonomian Indonesia, jika dibandingkan dengan investasi modal (capital investment). 
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paten memiliki dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) jika dibandingkan dengan investasi finansial langsung.

Setiap kenaikan 10 persen paten di seluruh sektor industri berkontribusi terhadap pertumbuhan PDB sebesar 1,69 persen, sementara 10 persen kenaikan investasi hanya berdampak sebesar 1,64 persen.  
 
Hasil yang lebih signifikan terlihat di bidang TIK. kenaikan 10 persen paten teknologi yang disetujui mampu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan PDB sebesar  2,34 persen. Sementara, peningkatan yang sama untuk investasi hanya berkontribusi sebesar 1,87 persen. 
 
Lebih jauh, riset ini juga menekankan potensi Indonesia untuk meningkatkan sistem patennya yang mana cukup tertinggal dari negara lain. Sebagai ilustrasi, Indonesia hanya mengabulkan 8.872 permohonan paten, jauh di bawah Korea Selatan yang mengabulkan sebanyak 108.875 atau Taiwan yang sebanyak 76.252. 
 
Berdasarkan penemuan ini, secara umum INDEF merekomendasikan pemerintah untuk mendukung dan mendorong inovasi.

Secara spesifik, INDEF menghimbau lima Kementerian untuk melakukan koordinasi di bidang penelitian dan pengembangan TIK, memberikan insentif dan tambahan anggaran penelitian, penguatan sumber daya manusia, serta mempercepat dan mempermudah proses paten, demi mendorong pertumbuhan dan perlindungan kekayaan intelektual di Indonesia. 
 
Adapun kementerian yang dimaksud antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. 
 
“Banyak negara di Asia Tenggara yang terperangkap dalam middle-income trap, terkendala dalam mencapai pertumbuhan berpendapatan tinggi sebagai akibat dari ketergantungan terhadap pekerja keterampilan rendah dan juga lambannya pengembangan keterampilan pekerja,” kata Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF.

“Di Asia, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan telah sukses membebaskan diri mereka dengan menawarkan insentif bagi inovasi dan mendorong sektor keilmuan.” 
 
“Melalui inisiatif ‘Making Indonesia 4.0’, Indonesia siap menyongsong kemajuan melalui pertumbuhan inovasi sehingga dapat menjadi negara yang berdasarkan pada ekonomi berbasis pengetahuan, seiring dengan penguatan proteksi kekayaan intelektual dan usaha pemberian insentif bagi R&D,” terang Julie G. Welch, Vice President of Government Affairs, South East Asia Pacific & Taiwan, Qualcomm International, Inc. 
 
Dalam pidato pembuka, Dede Mia Yusanti, Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (DTLST) dan Rahasia Dagang dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham), mengakui adanya kontribusi paten terhadap perekonomian Indonesia.

“Saat ini, kami terus berupaya untuk meningkatkan kinerja dari Direktorat kami melalui penerapan beragam program dan mempersingkat proses-proses paten, sejalan dengan aspirasi kami menjadi Sepuluh Besar Kantor Kekayaan Intelektual Terbaik pada tahun 2020,” ujar Dede.
 
Yulia Astuti, Kepala Bidang Kekayaan Intelektual, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dari Kementerian Perindustrian mengakui pentingnya kontribusi paten terhadap pertumbuhan perekonomian, dan koordinasi antar lembaga serta insentif fiskal untuk meningkatkan investasi di bidang penelitian dan pengembangan (R&D).

“Saat ini kami sudah mengusulkan skema insentif untuk R&D, namun hingga kini masih didiskusikan dengan pihak-pihak terkait sebab riset memiliki risiko yang cukup tinggi,” kata Yulia.

Adapun cara yang sedang dikembangkan pemerintah salah satunya adalah melalui insentif pajak, produksi elektronik dengan nilai tambah, kerja sama transfer pengetahuan dari luar ke dalam negeri dan meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.