Huawei: Smart City Dimulai dari Keamanan

Mohammad Mamduh    •    Kamis, 09 Nov 2017 16:24 WIB
huaweismart citycyber security
Huawei: Smart City Dimulai dari Keamanan
Ilustrasi: Smart city

Metrotvnews.com: Pemerintahan di banyak negara saat ini berlomba menerapkan konsep pintar untuk perkotaan. Tren adopsi smart city memang terus meningkat, dan implementasinya butuh waktu yang tidak sebentar.

Di sisi lain, ada kecenderungan untuk bingung aspek apa yang ingin diterapkan terlebih dahulu. Menurut Huawei, aspek paling utama yang perlu diterapkan adalah keamanan publik (public safety).

Hal ini diungkapkan oleh Agustine Chiew, Global Public Safety Expert, Enterprise Business Group Huawei, saat menjadi pembicara dalam Huawei Asia Pasific Innovation Day 2017. Alasannya adalah keamanan merupakan pintu utama masyarakat bisa mengambil langkah berikutnya dalam meningkatkan taraf hidup.

Chiew memberikan contoh Longgang, salah satu distrik di provinsi Shenzhen, Tiongkok. Pemerintah setempat menerapkan smart city yang terfokus pada keamanan. “Ada sekitar 7.088 kamera pengawas beresolusi HD dan 13 ribu kamera pengawas standar di tempat publik,” kata Chiew.

Kamera ini ditempatkan di tempat keramaian, SPBU, dan jalan umum seperti perempatan.
Tidak hanya sebagai pengawas biasa, kamera itu telah ditanam system pengenal wajah, yang sering kita lihat pada film bertema mata-mata.

“Infrastruktur ini bisa memperkuat aparat kepolisian agar mereka mampu mengalisa dan bertindak lebih cepat." Hasilnya, penanganan kejahatan bisa lebih cepat dan efisien.

Chiew menjelaskan, di balik sistem keamanan ini terdapat satu pusat komando yang biasanya berada di bawah kendali pemerintah setempat. Berbagai data yang dikumpulkan dari semua kamea pengawas ini bisa memberikan gambaran atau pola masyarakat, sehingga nantinya bisa tindak kriminal bisa terdeteksi secara cepat.

Salah satu hasil yang terlihat dari distrik Longgang adalah angka kriminalitas menurun sampai 53 persen. “Ini jika dibandingkan dengan tahun lalu, sementara saat ini data yg terkumpul sampai pertengahan pertama 2017.” Penerapan keamanan pintar di perkotaan juga meningkatkan rasio pemecahan kasus hingga 45 persen dalam periode yang sama.

Belum selesai, Chiew melanjutkan, penerapan keamanan pintar juga meningkatkan efisiensi penegak hukum. “Kinerja 8 personil bisa terganti hanya dengan 2 orang,” katanya.

Ia kemudian memberikan salah satu contoh konkret, misalnya terjadi penculikan anak. Kamera pengawas akan mencari rekaman publik terakhir, kemudian mencocokkanya dengan data kependudukan. Berbagai referensi dari si penculik juga akan menjadi referensi, mulai dari kapan ia mengindap di hotel, sampai tiket kereta.

“Dengan begitu, kasus penculikan bisa diselesaikan dalam waktu 15 jam."

Namun, ia juga tetap menekankan bahwa keamanan pintar untuk perkotaan sangat mengutamakan integrasi antar instansi, tak lupa dengan adopsi teknologi dari pihak pemerintah. Artinya, mereka juga harus memahami penggunaan sistem public safety yang lebih canggih ini.


(MMI)