Komite Olimpiade Internasional Sepakat Esport Bisa Dipertandingkan

Cahyandaru Kuncorojati    •    Minggu, 29 Oct 2017 16:19 WIB
esport
Komite Olimpiade Internasional Sepakat Esport Bisa Dipertandingkan
Komite Olimpiade Internasional beranggapan bahwa dengan memasukkan esport ke dalam cabang pertandingan maka bisa membuat perhelatan tersebut tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Metrotvnews.com: Giliran Komite Olimpiade Internasional yang mengakui esport bisa dipertandingkan dalam perhelatan empat tahunan mereka.

Dilaporkan dari The Business Insider, Komite Olimpiade Internasional menggelar rapat dihadiri beragam stakeholder, dan membahas fenomena esport, serta kemungkinan untuk menggelar pertandingan tersebut. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa esport bisa ikut meramaikan perhelatan yang sejak era Yunani Kuno tersebut.

Jika esport dipertandingkan di dalam olimpiade, maka pihak penyelenggara bisa menarik perhatian dan penonton dari kalangan anak muda, tidak hanya mereka yang menggemari olahraga tradisional saja.

Di satu sisi, esport membuat Olimpiade juga relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Pihak Komite Olimpiade Internasioanal menyadari bahwa esport di berbagai belahan dunia sedang sangat tinggi pertumbuhannya, sehingga memungkinkan untuk menjadi sebuah pertandingan skala internasional yang besar.

Komite Olimpiade Internasional menyebutkan. sebelum esport bisa dipertandingkan, kegiatan tersebut harus terlebih dahulu disesuaikan dengan nilai-nilai dari olimpiade. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah pelatihan yang ditujukan bagi pertandingan esport sehingga pemain mendapat perlakuan layaknya atlet olahraga tradisional.

Persiapan lain yang harus dilakukan jika esport ingin menjadi salah satu pertandingan di Olimpiade adalah setiap negara harus memiliki lembaga resmi yang mewadahi esport secara resmi. Dimasukkannya esport dalam sebuah pertandingan olahraga skala internasional terdekat saai ini adalah pada Asian Games 2022.

Berdasarkan hasil riset firma Newzoo, pasar industri game atau esport itu sendiri mencapai USD385 juta untuk tahun ini. Jika di kawasan Ameria Utara dan Eropa game konsole dan PC lebih populer, di Asia justru game mobile sedang tumbuh sangat agresif seiring pertumbuhan pasar perangkat smartphone


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.