WhatsApp Uji Pesan Berantai?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 17 Jan 2018 11:19 WIB
whatsapp
WhatsApp Uji Pesan Berantai?
WhatsApp menguji fitur baru untuk lawan pesan berantai. (AP Photo / Patrick Sison)

Jakarta: WhatsApp tengah menguji fitur baru yang bertujuan membatasi penyebaran pesan hoaks berantai. 

Fitur ini, yang ditemukan oleh Whatsappen.ni dan WABetaInfo, akan memperingatkan pengguna bahwa pesan-pesan tertentu telah "dikirimkan berulang kali".

Peringatan ini, yang akan ditunjukkan pada pengirim dan penerima, tidak menyatakan apakah sebuah pesan merupakan hoaks atau bukan. Namun, notifikasi itu akan menjadi pengingat pada pengguna bahwa pesan yang mereka terima atau akan kirimkan belum tentu benar. 

Salah satu contoh pesan hoaks berantai yang mungkin akan ditandai oleh fitur ini adalah tentang WhatsApp yang menjadi aplikasi berbayar dan Anda hanya bisa menggunakannya secara gratis jika Anda memiliki beberapa orang yang Anda ajak obrol secara rutin. 

Namun, seperti yang disebutkan oleh The Next Web, masih belum jelas dimana saja WhatsApp menguji fitur ini. Selain itu, masih belum ada kepastian bahwa WhatsApp akan menjadikan fitur ini sebagai fitur permanen. 

Satu hal yang pasti, WhatsApp terus berusaha untuk memerangi hoaks dan pesan berantai di aplikasinya. Memang, pesan bohong berantai merupakan masalah besar di WhatsApp, terutama di beberapa negara seperti India.

Anda juga pasti pernah mendapatkan pesan berantai yang kebenarannya meragukan di WhatsApp, baik melalui grup chat atau melalui pesan pribadi.  

Menariknya, cara WhatsApp untuk menumpas hoaks cenderung lembut. Mereka hanya mengingatkan pengguna akan kemungkinan bahwa pesan yang mereka terima atau kirimkan adalah pesan hoaks.

Berbeda dengan Facebook yang menghadapi berita palsu dengan cara yang lebih frontal. Facebook bekerja sama dengan organisasi ketiga yang memeriksa kebenaran sebuah berita dan menandai sebuah post yang dicurigai sebagai hoaks. Sementara itu, WhatsApp hanya memberitahu pengguna bahwa sebuah pesan telah "dikirimkan berulang kali."

Mungkin, WhatsApp mengadopsi cara yang lebih lembut ini dengan belajar dari pengalaman Facebook. Usaha keras Facebook untuk memerangi hoaks justru menjadi senjata makan tuan dan memperkuat kepercayaan orang yang sudah percaya dengan berita palsu. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.