Tencent: Kita Perlu Jutaan Ahli Kecerdasan Buatan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 06 Dec 2017 13:18 WIB
kecerdasan buatan
Tencent: Kita Perlu Jutaan Ahli Kecerdasan Buatan
Tuntutan akan ahli AI sangat tinggi. (Shutterstock)

Jakarta: Saat ini, jumlah talenta di bidang kecerdasan buatan (AI) masih belum cukup. Laporan terbaru dari perusahaan raksasa Tiongkok, Tencent menunjukkan bagaimana para ahli AI masih sangat dibutuhkan.

Menurut studi yang diadakan oleh Tencent Research Institute, sekarang, hanya ada 300 ribu "ahli dan pelaku di bidang AI", sementara tuntutan akan itu mencapai jutaan orang. Seperti yang disebutkan oleh The Verge, angka itu hanya berupa dugaan.

Meski studi itu tidak memberikan detail tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan angka tersebut, studi Tencent itu sesuai dengan laporan-laporan yang telah ada sebelum ini.

Secara global, perusahaan-perusahaan teknologi raksasa sering mengeluh, merasa sulit untuk menemukan ahli AI. Tingginya tuntutan akan ahli AI membuat gaji ahli AI sangat tinggi. 

Orang-orang yang hanya memiliki pengalaman dua atau tiga tahun bisa mendapatkan gaji sekitar USD300 ribu (Rp4 miliar) sampai USD500 ribu (Rp6,7 miliar) per tahun, lapor The New York Times.

Sementara para ahli bisa mendapatkan gaji hingga jutaan dollar AS. Sebuah laboratorium AI independen menjelaskan bahwa sekarang, hanya ada 10 ribu orang di dunia yang cocok untuk memimpin proyek terkait AI. 

Menurut laporan terbaru Tencent, alasan kurangnya talenta di bidang AI adalah karena masalah edukasi. Mereka memperkirakan, sekitar 200 ribu dari 300 ribu peneliti aktif telah dipekerjakan di berbagai bidang, tidak hanya teknologi. Sementara 100 ribu orang sisanya masih sekolah.

Beberapa tahun belakangan, orang-orang yang tertarik untuk belajar AI dan pembelajaran mesin memang telah meroket. Namun, masih diperlukan waktu agar mereka menyelesaikan pendidikan. 

Menariknya, dalam laporannya, Tencent juga berspekulasi tentang kompetisi global terkait AI. Ini adalah topik yang sering dibicarakan dalam beberapa bulan belakangan. Para ahli di Amerika Serikat memperingatkan, mereka bisa kalah dari pesaing seperti Tiongkok jika pemerintah membiarkan peraturan terkait tidak tertata. 

Dalam laporanya, Tencent menyebut AS, Tiongkok, Jepang dan Inggris sebagai pemain utama di industri AI. Mereka juga menyebutkan Israel dan Kanada.

Menurut Tencent, Kanada memiliki pondasi pendidikan yang kuat, yang membuat banyak perusahan besar membuat laboratorium penelitian di sana. Sementara Inggris adalah negara yang paling maju terkait "aspek hukum dan etika" dari AI. Jepang sendiri memimpin dalam bidang robot. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.