Melirik Masalah Kehadiran Lagu Versi Cover di YouTube

Riandanu Madi Utomo    •    Kamis, 28 Sep 2017 17:28 WIB
youtube
Melirik Masalah Kehadiran Lagu Versi Cover di YouTube
Di beberapa negara seperti Jepang, keberadaan lagu Cover justru mendapatkan apresiasi

Metrotvnews.com: Fenomena lagu cover atau lagu yang "dibuat ulang" oleh penggemar di YouTube memang sudah sangat marak. Anda boleh saja menyebut satu lagu ternama, dan hampir dipastikan lagu tersebut memiliki versi cover yang lebih dikenal. Contohnya saja, lagu Space Oddity yang dinyanyikan oleh astronaut Chris Hadfield, yang ternyata lebih banyak dilihat oleh ketimbang versi orisinalnya dari David Bowie.

Baru-baru ini ada sebuah "curhatan" dari musisi Indonesia, yaitu Payung Teduh yang ternyata kurang suka dengan kemunculan lagu cover di YouTube, karena kebanyakan dari mereka tidak memegang izin resmi dari pencipta lagunya.

"Kita ketahui bersama di YouTube ada sebuah sistem yang bisa melacak sebuah karya. Sehingga saat terjadi monetisasi sebuah lagu akan langsung dialirkan si penulis lagu atau komposer asli. Namun, pada kenyataannya ada yang mengubah judul dan lirik, sistem di YouTube kadang menganggap itu sebagai materi baru. Sementara monetisasi itu terus terjadi," ujar vokalis Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad ketika dihubungi Metrotvnews.com.

"Saya tidak menegur soal duit, saya menegur soal etika untuk meminta izin kepada komposer (atau empunya lagu) ketika sudah berhubungan dengan kegiatan produksi dan menjual di kanal digital. Itu fokus saya. Jadi, bukan tidak boleh meng-cover. Saya juga bilang (dalam video yang diunggah ke Instagram) terimakasih saya senang sekali dan tidak masalah dengan cover, yang penting izin (jika ingin melakukan produksi, monetisasi dan menjualnya)."

Dari segi legalitas, YouTube sendiri memperbolehkan cover lagu beredar, selama pihak pemegang hak cipta memperbolehkannya melalui sistem bernama YouTube Content ID. Artinya, video lagu cover bisa saja diblokir atas permintaan pemegang hak cipta. Tentu saja, selalu ada celah untuk melakukan monetisasi melalui lagu cover.



Hingga saat ini, YouTube mengandalkan algoritma khusus yang mampu mendeteksi keberadaan konten dengan hak cipta. Namun, algoritma tersebut masih belum bisa menyaring semua video yang ada di situs milik Google tersebut.

Apalagi, setiap harinya video di YouTube bertambah sangat banyak. Dengan demikian, mustahil bagi pemegang hak cipta untuk memblokir semua video yang menggunakan konten ciptaannya.

Membuat cover lagu memang sepertinya merupakan alternatif mudah dalam mencari uang melalui YouTube, mengingat integrasi YouTube dengan platform monetisasi Adsense kini sangat simpel. Bahkan tidak jarang video lagu cover memiliki jumlah penonton yang lebih banyak dari versi orisinilnya. Dengan demikian, bisa disimpulkan bila pendapatan "artis" lagu cover juga tidak sedikit.

Namun di beberapa negara seperti Jepang, keberadaan lagu cover sudah sangat lumrah. Pembuat video lagu cover bahkan seringkali menggunakan software seperti Vocaloid untuk menyanyikan lagunya. Tidak sampai disitu, hasil penelusuran Metrotvnews.com mengungkap, industri musik Jepang juga memiliki istilah bernama "Utaite" alias artis yang memang spesialis di bidang cover lagu.

Gerak-gerik Utaite memang sangat terbatas, yaitu mereka hanya bisa merilis lagunya di platform tertentu dan harus menyajikan konten dengan nuansa yang berbeda dari sisi orisinalnya. Mereka juga diperbolehkan melakukan monetisasi, memasarkan dan menjual lagu cover-nya, tetapi hanya di kondisi atau acara khusus. Karena berbagai keterbatasan tersebut, beberapa konten yang disajikan para Utaite ini justru terlihat lebih kreatif sebab mereka juga ingin menarik perhatian khalayak umum melalui penyajian khasnya.



Keberadaan Utaite memang masih "abu-abu", sama seperti di Indonesia sehingga mereka tidak bisa sembarangan membuat lagu cover karena tidak semua artis mengizinkannya. Biasanya, artis pemegang hak cipta bakal menghubungi pihak penyedia platform seperti YouTube sejak awal agar lagu-lagunya dilarang beredar tanpa izin.

Melihat dari sisi positifnya, keberadaan artis lagu cover justru bisa meningkatkan standar kreativitas industri karena banyak pembuat lagu cover berhasil menghadirkan konten yang lebih baik.

Sebut saja kanal bernama Kobasolo yang memang hadir sebagai kanal untuk lagu cover dari berbagai artis ternama seperti Radwimps yang lagunya sedang naik daun berkat film Your Name. Meski demikian, Kobasolo berhasil menghadirkan video lagu cover berkualitas dengan nuansa yang berbeda.

Keberadaan para artis lagu cover dengan para artis pencipta lagu aslinya tidak akan menjadi simbiosis parasitisme, selama kedua belah pihak saling menghargai karyanya satu dengan lain.


(MMI)