Tiongkok akan Luncurkan Jaringan Kuantum Kebal Peretasan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 28 Jul 2017 16:55 WIB
securitytelekomunikasi
Tiongkok akan Luncurkan Jaringan Kuantum Kebal Peretasan
Ilustrasi. (Geralt)

Metrotvnews.com: Pemerintah Tiongkok akan meluncurkan jaringan komunikasi baru yang "kebal peratasan" berdasarkan kriptografi kuantum, yang dapat merevolusi proses enkripsi. Media Tiongkok berkata, kota Jinan akan menjadi kota pertama di dunia yang menggunakan teknologi tersebut.

Jaringan ini dilaporkan memakan biaya sekitar CNY120 juta (Rp237 miliar). Para peneliti menyebutkan, jaringan kuantum tersebut akan menghubungkan kantor-kantor pemerintahan di kota Jinan. Sekitar 50 tes menunjukkan bahwa jaringan ini akan dapat mengenkripsi lebih dari 4.000 data per detik, lapor China Daily.

Menurut laporan IBTimes UK, jaringan ini akan digunakan oleh lebih dari 200 orang dalam pemerintahan, departemen keuangan dan militer Jinan. Para ahli dari Institute of Quantum Technology yang ada di Jinan mengatakan, jaringan revolusioner ini akan diluncurkan pada bulan Agustus mendatang. 

Berbeda dengan enkripsi yang digunakan saat ini, jaringan berbasis quantum mengirimkan pesan yang dimasukkan ke dalam partikel cahaya. Jaringan ini diklaim tidak bisa diretas karena jika ada seseorang yang mencoba untuk masuk ke jaringan, partikel akan berubah dan pesan di dalamnya akan hancur.

"Kami berencana untuk menggunakan jaringan ini untuk keamanan dalam negeri, finansial dan bidang-bidang lain dan berharap ia akan digunakan di Tiongkok dan di seluruh dunia jika proyek percobaan ini sukses," ujar Zhou Fei, Assistant Director of Jinan Institute of Quantum Technology, seperti yang dikutip dari Financial Times

Banyak negara yang enggan untuk menanamkan investasi besar dalam sistem kuantum baru tersebut. Kepada BBC, Profesor Myungshik Kim dari Imperial College, London menjelaskan, "Untuk waktu lama, orang-orang pikir sistem itu tidak dibutuhkan. Tingkat kesulitan matematis dari sistem coding saat ini sudah begitu tinggi sehingga mereka pikir, teknologi baru belum diperlukan."

Namun, kini, tampaknya Tiongkok justru menjadi pemimpin dalam bidang baru ini. "Meski tidak ada sistem yang bisa disebut 'tak bisa diretas', pendekatan baru dan radikal memang diperlukan untuk membantu mengamankan teknologi dan komunikasi," ujar Javvad Malik, seorang ahli dalam perusahaan keamanan AlienVault.


(MMI)