Pengetahuan dan Kepercayaan Hambat Potensi Besar Fintech

Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 07 Dec 2018 13:49 WIB
line
Pengetahuan dan Kepercayaan Hambat Potensi Besar Fintech
Survei LINE sebut pengetahuan dan kepercayaan jadi hambatan potensi fintech.

Jakarta: LINE merilis survei menyoroti potensi industri teknologi finansial di sejumlah negara seperti Jepang, Thailand, Taiwan, Indonesia, Korea, Inggris, dan Amerika Serikat, meninjau sebanyak 5.000 pengguna smartphone di tujuh wilayah tersebut.

Menurut survei di tujuh pasar ini, LINE menyebut sebanyak 64 persen dari responden setuju bahwa teknologi keuangan memudahkan perencanaan dan pengelolaan keuangan. Tingkat kepercayaan pada teknologi ini juga tergolong tinggi, diwakili oleh 63 persen responden.

Sementara itu sebesar 30 persen responden menentang dan tidak mempercayai layanan dan produk teknologi keuangan. Survei ini turut menyebut, semakin muda usia responden, maka tingkat kepercayaan pada teknologi finansial juga semakin tinggi.

Sebesar 55 persen dari kategori responden berusia di atas 55 tahun mengaku mempercayai layanan fintech, sedangkan kategori responden berusia 18-34 tahun menorehkan persentase sebesar 69 persen terkait dengan kepercayaan ini.

Sayangnya, survei ini turut menyebut tingkat pengetahuan responden terhadap produk dan layanan fintech masih rendah. Hanya sebesar 44 persen responden yang telah memahami hal ini, dan sebesar 52 persen dari responden ini berusia antara 18 tahun hingga 34 tahun.

Sementara itu, Thailand, Taiwan dan Indonesia tampil menonjol akibat ketertarikan pada masa depan saat keuangan menjadi digital. Terkait peluang transaksi tanpa uang fisik, sejumlah responden menyambut gembira peluang ini.

Sebesar 57 persen responden di Thailand, sebanyak 56 persen di Indonesia, 52 persen di Taiwan, dan 45 persen di Korea, mengaku tidak sabar saat masa transaksi tanpa uang fisik tersebut terjadi.

Sebaliknya, para responden di Inggris, Amerika Serikat dan Jepang tidak bersemangat untuk meninggalkan cara transaksi tradisional.

Hanya sebesar 24 persen responden di Jepang, 20 persen responden di Amerika Serikat dan 19 persen di Inggris, yang mengaku gembira terkait peluang transaksi digital tersebut.

Jika dibandingkan dengan Thailand, Indonesia dan Taiwan, Jepang menempati posisi terakhir dalam tingkat kepercayaan dan pemahaman akan fintech. Hanya 38 persen responden mengaku percaya pada FinTech, dibanding rata-rata survei dengan persentase sebesar 63 persen.

Hanya sebesar 22 persen melaporkan memiliki pengetahuan akan fintech, lebih rendah jika dibanding rata-rata survei sebanyak 44 persen.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.