Pemerintah Ingin Terapkan Pajak ke Bintang Instagram

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 12 Oct 2016 15:01 WIB
instagrame-commerce
Pemerintah Ingin Terapkan Pajak ke Bintang Instagram
Bintang Instagram nantinya akan dipajaki. (AFP PHOTO / Josh Edelson)

Metrotvnews.com: Pemerintah berencana untuk memajaki para bintang Instagram dan orang-orang yang berjualan melalui Facebook, forum KASKUS atau media sosial lainnya.

Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan DJP Yon Arsal berkata, dengan strategi ini, pemerintah berharap akan dapat mengumpulkan pajak sebesar USD1.2 miliar (Rp15,6 triliun).

"Marketplace online, penjualan langsung dan endorser, semua adalah subyek pajak jika mereka punya penghasilan yang bisa dilaporkan," kata Arsal dalam sebuah wawancara yang diadakan di kantornya di Jakarta, kemarin, Selasa (11/10/2016).

"Kami sedang melakukan diskusi untuk menentukan cara terbaik untuk melakukan hal ini dan apakah kami akan menggunakan tarif yang berbeda untuk bisnis jenis ini," ujarnya, seperti yang dikutip dari Bloomberg.

Saat ini, Presiden Joko Widodo sedang berusaha untuk meningkatkan penghasilan negara dengan tujuan menyokong proyek-proyek infrastruktur yang menghabiskan dana miliaran dollar seiring, terutama karena ekonomi sekarang melemah akibat turunnya harga komoditas dan permintaan pasar. Salah satu cara yang Jokowi lakukan adalah program amnesti pajak.

Di Indonesia, berjualan melalui media sosial bukanlah hal yang aneh. Barang yang dijual pun beragam, mulai dari tas, makanan untuk hewan peliharaan, hingga iPhone 7. Namun, biasanya, para penjual tidak melaporkan pendapatan mereka ke pemerintah. Badan pajak berharap akan dapat mengumpulkan Rp10 - 15 triliun dengan memajaki para penjual di media sosial ini.

Pemerintah juga akan mengejar pajak dari perjanjian endorsement yang dilakukan oleh para bintang media sosial. Dengan endorsement, seorang bintang akan diminta untuk mengiklankan produk sponsor pada para fans mereka, kata Arsal. Pemerintah berencana untuk membandingkan pendapatan yang seorang bintang media sosial dapatkan dengan aktivitas mereka di media sosial.

Arsal berkata, Kementerian Keuangan akan meminta bantuan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk melacak transaksi dan penjualan online.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.