Kominfo: Facebook Bisa Kena Sanksi Hingga Rp12 Miliar

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 05 Apr 2018 14:59 WIB
media sosialfacebookCambridge Analytica
Kominfo: Facebook Bisa Kena Sanksi Hingga Rp12 Miliar
Facebook bisa terkena sangsi hingga Rp12 miliar. (AFP PHOTO / LOIC VENANCE)

Jakarta: Facebook mungkin bisa terkena sanksi denda sampai Rp12 miliar, jika mereka terbukti melanggar PM Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi atau UU ITE.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara akan bertemu dengan perwakilan Facebook sore ini, untuk membahas terkait adanya satu juta pengguna Indonesia yang terlibat dalam skandal Cambridge Analytica. 

"Terlepas dari hasilnya nanti, penggunaan data tidak benar oleh PSE bisa melanggar PM Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi maupun UU ITE," kata Rudiantara. "Sanksinya, bisa mulai dari sanksi administrasi, sanksi hukuman badan sampai 12 tahun dan sanksi denda sampai Rp12 miliar."

Rudiantara mengaku, sebenarnya dia telah menghubungi pihak Facebook sejak laporan tentang skandal Cambridge Analytica meruak.

"Sejak kasus Facebook-Cambridge Analytica, Kominfo sudah mengubungi Facebook. Saya bahkan telah menelpon sendiri Facebook 10 hari yang lalu," kata Rudiantara ketika dihubungi Medcom.id.

Ketika itu, ada dua hal yang dia minta dari Facebook. "Pertama, memberikan informasi apakah dari 50 juta pengguna Facebook yang datanya digunakan Cambridge Analytica, adakah yang berasal dari pengguna Facebook Indonesia. Jika ada, berapa besar," ujarnya.

"Kedua, meminta jaminan Facebook sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) mematuhi Peraturan Menteri Kominfo Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi."

CTO Facebook baru saja memberikan informasi terbaru tentang jumlah pengguna Facebook yang datanya disalahgunakan dalam skandal Cambridge Analytica. Pada awalnya, diperkirakan bahwa ada 50 juta pengguna Amerika Serikat yang terpengaruh.

Namun, ternyata, ada 87 juta pengguna yang terpengaruh. Sebanyak satu juta di antaranya adalah pengguna Facebook Indonesia. Terkait hal ini, Rudiantara menyebutkan, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Polri untuk mengantisipasi jika diperlukan tindakan penegakan hukum. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.