Dukungan Didi ke Grab Persulit Uber Bersaing di Asia Tenggara

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 25 Jul 2017 18:04 WIB
ubergrab
Dukungan Didi ke Grab Persulit Uber Bersaing di Asia Tenggara
Dukungan Didi ke Grab akan persulit Uber di Asia Tenggara. (Bloomberg via Getty Images)

Metrotvnews.com: Salah satu alasan valuasi Uber bisa mencapai USD70 miliar (Rp933 triliun) adalah harapan perusahaan transportasi berbasis aplikasi itu akan dapat melakukan ekspansi dengan sukses di Tiongkok, India dan Asia. Namun, usahanya untuk menguasai Tiongkok justru membakar uang kasnya dan berakhir pada dijualnya divisi Uber di Tiongkok pada pesaingnya, Didi Chuxing, senilai USD1 miliar (Rp13,3 triliun). 

Sementara rencana Uber untuk melakukan ekspansi di Thailand, Malaysia dan negara-negara lain di Asia Tenggara tampaknya juga tidak akan berjalan mulus mengingat "rekan" mereka di Tiongkok, Didi, dan juga SoftBank baru saja menanamkan investasi USD2 miliar (Rp26,6 triliun) ke pesaing berat mereka di Asia Tenggara, Grab, lapor Engadget.

Investasi yang diterima Grab ini dapat merusak rencana Uber untuk melakukan ekspansi di Asia Tenggara. Selama ini, Uber juga kurang berhasil dalam memasuki negara-negara Asia. Dan hal ini dapat memengaruhi penggunanya di negara-negara Barat, yang harus menggunakan aplikasi lain ketika mereka berpergian ke Asia untuk berlibur atau untuk bisnis. Misalnya, aplikasi Uber tidak lagi bisa digunakan di Tiongkok sementara Didi Chuxing juga telah menawarkan aplikasinya dalam bahasa Inggris. 

Grab menguasai 95 persen industri taksi berbasis aplikasi di kawasan Asia Tenggara, 71 persen transportasi pribadi berbasis aplikasi dan mendapatkan permintaan perjalanan sebanyak 3 juta per hari, ujar Grab dalam pernyataan resmi. Tujuan akhir Grab adalah untuk menguasai industri transportasi berbasis aplikasi di Asia Tenggara. Uber merupakan pesaing utama mereka. 

"Dimulai dari transportasi, Grab memperkuat kepemimpinan mereka dalam ekonomi internet di Asia Tenggara berkat posisi pasarnya, teknologinya yang lebih canggih dan pengetahuannya tentang pasar lokal," ujar CEO Didi, Cheng Wei dalam sebuah pernyataan resmi. 

Memang, mulai terlihat bahwa berbeda dengan Facebook, Google atau perusahaan besar lainnya, Uber berada di posisi yang tidak menguntungkan ketika berusaha untuk melakukan ekspansi ke negara lain. 

"Uber telah kalah sekali dan kami akan membuat mereka kalah lagi," ujar CEO Grab Anthony Tan dalam email tahun lalu, lapor Fortune. "Kesuksesan Didi memeprkuat apa yang selama ini kami percaya, bahwa perusahaan lokal bisa mengalahkan Uber di rumahnya sendiri."

Uber memang memiliki 17,7 persen saham di Didi Chuxing, jadi, mereka bisa saja mendapatkan untung dari kesuksesan rivalnya, Grab. Namun, keputusan Didi untuk mendukung Grab akan menyulitkan rencana ekspansi Uber. Tidak tertutup kemungkinan, Uber akan dipaksa untuk mundur dari pasar Asia Tenggara daripada harus menghabiskan uang secara sia-sia di pasar tersebut. 


(MMI)

Huawei Nova 2i, Jawaban 4 Kamera di Kelas Menengah
Review Smartphone

Huawei Nova 2i, Jawaban 4 Kamera di Kelas Menengah

1 week Ago

Huawei Nova 2i dilengkapi dengan 4 kamera. Inilah ulasan lengkap performanya. 

BERITA LAINNYA
Video /