AS Tuntut 2 Hacker Iran, Kenapa?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 29 Nov 2018 15:50 WIB
cyber security
AS Tuntut 2 Hacker Iran, Kenapa?
Ilustrasi ransomware.

Jakarta: Departemen Keadilan Amerika Serikat menuntut dua hacker Iran yang dituduh sebagai dalang di balik serangan ransomware yang menyerang beberapa kota di Amerika Serikat, termasuk Atlanta, San Diego, dan Newark. Kedua hacker ini melumpuhkan berbagai layanan umum.

Kedua hacker tersebut adalah Faramarz Shahi Savandi (34) dan Mehdi Shah Mansouri (27). Keduanya diduga menyebabkan kerugian lebih dari USD30 juta karena menyerang lebih dari 200 korban menggunakan ransomware SamSam, ungkap jaksa penuntut umum, lapor CNET.

Serangan ransomware menginfeksi komputer, membuat isi komputer tidak bisa diakses sampai korban membayar uang tebusan. Pada 2017, ransomware WannaCry menginfeksi komputer di seluruh dunia, termasuk komputer di rumah sakit Indonesia.

Brian Benczkowski, kepala divisi kriminal Departemen Keadilan berkata bahwa kedua hacker Iran ini tidak memiliki hubungan dengan pemerintah. Dia menyebutkan, ini adalah dakwaan pertama pada hacker yang menggunakan ransomware untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Melalui serangan ini, para hacker mendapatkan USD6 juta, menurut Deputy Attorney General Rod Rosenstein.


Poster buron dari dua hacker Iran. 

"Banyak korban dari serangan ini yang merupakan lembaga yang bertugas untuk menyelamatkan banyak nyawa orang dan melakukan tugas penting untuk masyarakat AS," kata Rosenstein. Menurut dokumen pengadilan, Savandi dan Mansouri secara sengaja menyerang infrastruktur penting, seperti rumah sakit dan sistem kota, untuk mendapatkan uang tebusan sebanyak mungkin.

Pengacara AS Craig Carpenito mengatakan bahwa dua hacker ini mencari kelemahan secara menyeluruh. "Uang bukanlah satu-satunya tujuan mereka. Mereka ingin merusak organisasi dan infrastruktur penting kita," kata Carpenito. "Mereka ingin memengaruhi cara kita hidup."

Dua hacker ini menyerang badan pemerintah yang akan kesulitan untuk beroperasi jika mereka tidak bisa mengakses komputer mereka. Selain Atlanta, korban dari serangan ini meliputi Newark, New Jersey, Departemen Transportasi Colorado, University of Calgary di Kanada, dan rumah sakit di Los Angeles, Kansas, North Carolina, Maryland, Nebraska, dan Chicago.


(ELL)

Samsung Galaxy A9, Si Unik Berkamera Empat
Review Smartphone

Samsung Galaxy A9, Si Unik Berkamera Empat

1 week Ago

Samsung mengakhiri tahun 2018 dengan ponsel inovatif dalam hal kamera dengan dukungan empat kam…

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.