Bohong Soal Loot Box, Korsel Beri Denda Netmarble dan Nexon

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 12 Apr 2018 14:34 WIB
games
Bohong Soal Loot Box, Korsel Beri Denda Netmarble dan Nexon
Nexon dianggap tidak memberikan kemungkinan pengguna mendapatkan loot box.

Jakarta: Korea Selatan mendenda tiga studio game atas tuduhan mempromosikan kesempatan menang loot box yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Komisi Keadilan Perdagangan (FTC) telah memberikan denda total senilai KRW1 miliar (Rp12,9 miliar) pada Nexon, Netmarble, dan NextFloor karena dianggap memberikan informasi salah terkait kemungkinan pemain memenangkan loot box

Badan regulasi itu menyebutkan, masing-masing studio yang terkena denda tidak memberitahukan pengguna betapa kecilnya kemungkinan mereka memenangkan item dalam game, meski mereka telah membeli menggunakan uang asli atau karena mempromosikan kemungkinan mendapatkan loot box yang berbeda dengan kenyataan. 

Menurut laporan Engadget, Nexon tidak menyebutkan bahwa kesempatan untuk mendapatkan item dalam game Suddent Attack (sebuah game First Person Shooter yang populer) hanyalah 0,5 persen.

Sementara itu, Netmarble menyebutkan bahwa kemungkinan pemain mendapatkan satu monster adalah 1 persen. Padahal, kemungkinan sebenarnya adalah 0,0005 persen. 

Hal ini dianggap masalah karena bisa mendorong pemain menghabiskan uang untuk mendapatkan item yang kemungkinan didapatkan sangat kecil. Komisi menyebutkan dalam satu kasus, pemain Sudden Attack menghabiskan uang sebesar USD430 (Rp6 juta). 

Tentu saja, perusahaan-perusahaan pembuat game ini tidak senang dengan keputusan tersebut. Nexon ingin agar masalah ini ditinjau lebih lanjut. Sementara Netmarble telah meminta maaf dan akan melakukan perubahan meski mereka juga akan merepons setelah mempertimbangkan keputusan penuh FTC. 

Memang, masalah ini hanya terjadi di Korea Selatan saat ini. Namun, hal ini menunjukkan kekhawatiran regulator para pembuat game terlalu menggantungkan diri pada penjualan loot box, sehingga pemain tidak bisa melanjutkan permain jika mereka tidak mau membeli loot box. Sebagian orang bahkan membandingkan pembelian loot box dengan judi. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.