Microsoft Makin Jadi Ancaman Serius Amazon di Ranah Cloud

Mohammad Mamduh    •    Jumat, 23 Sep 2016 11:51 WIB
cloud computing
Microsoft Makin Jadi Ancaman Serius Amazon di Ranah Cloud
Foto: Kantor Microsoft

Metrotvnews.com, Jakarta: Secara global, banyak perusahaan yang mulai memindahkan produktivitas dan pekerjaan mereka ke layanan cloud ketimbang menyimpannya di server mereka sendiri.

Amazon Web Services adalah salah satu pemain besar di industri cloud. Di belakangnya ada IBM dan Google Cloud Platform yang sudah menyatakan keseriusannya dalam industri ini pada pertengahan tahun lalu.

Secara Popularitas layanan cloud Microsoft Azure memang masih tertinggal dari utamanya, Amazon Web Services. Namun, kehadiran perusahaan teknologi pimpinan Satya Nadella ini semakin menjadi ancaman serius.

Sementara Google dan Amazon terus mencari pelanggan baru, Microsoft sebenarnya sudah memiliki pelanggan setia sejak lama.

Pada dasarnya, penyedia cloud cenderung fokus menyediakan infrastruktur untuk keperuan komputasi awan pelanggannya. Dalam hal ini, server dan data center adalah dua komponen utama yang ditawarkan. Amazon Web Services dan Google Cloud Platform menawarkan hal yang sama, tetapi tidak dengan Microsoft. Sejak dahulu, Microsoft memiliki OS khusus perusahaan bernama Windows Server.

Lini bisnis Windows Server memungkinkan pelanggan lama Microsoft melakukan migrasi data langsung ke Azure yang masih satu atap. Dengan kata lain, Microsoft sejak awal sudah memiliki dua komponen utama dalam layanan cloud: software dan hardware. Kemudahan integrasi dan migrasi tersebut yang menjadi kartu truf Microsoft dalam menantang dominasi Amazon Web Services.  

Kesiapan Microsoft Azure dari segi infrastruktur memungkinkan mereka menawarkan konsep cloud hibrida lebih cepat, kepada konsumen yang tidak sepenuhnya mengandalkan layanan komputasi awan. Sebagian perusahaan memang memilih untuk menggunakan dua infrastruktur, yaitu milik sendiri dan dari pihak luar. Mereka tidak ingin data sensitif tersimpan pada layanan pihak ketiga.



Amazon dan Google akhirnya sadar bahwa mereka harus menciptakan sistem sendiri, yang memungkinkan penerapan teknologi cloud hibrida. Sejak dipimpin oleh Diane Greene, Google Cloud Platform mengambil langkah cepat untuk menyesuaikan pasar.

Google menggandeng OpenStack dalam menggarap sistem open-source yang mengoptimalisasi data center. Langkah ini diambil sebagai alternatif yang ditawarkan Amazon Web Services.

Langkah Microsoft pun membuahkan hasil. Pada bulan Mei, Azure berhasil meraih keuntungan tercepat mengalahkan Amazon, senilai USD5 triliun. Namun, Amazon Web Services sendiri sudah meraih pendapatan USD7 triliun. Dikutip dari Business Insider, pendapatan ini tidak hanya berasal dari laynaan infrastruktur cloud, tetapi juga berasal dari layanan Office 365.

Sementara itu, Microsoft tengah menggarap strategi cloud hibrida sendiri, Azure Stack, yang rencananya meluncur tahun depan. Layanan ini memungkinkan pelanggan mereka menciptakan cloud virtual pada server pihak ketiga yang mendapatkan sertifikasi. Tentunya, integrasi akan server dari pihak selain Microsoft akan lebih mudah.


(MMI)

Video /