Kominfo Gunakan Teknologi Cerdas Berantas Konten Negatif

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 09 Oct 2017 20:23 WIB
kominfo
Kominfo Gunakan Teknologi Cerdas Berantas Konten Negatif
Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan menjelaskan sistem ideal dari teknologi pemberantasn konten negatif di Indonesia

Metrotvnews.com, Jakarta: Hari ini Kementrian Kominfo mengumumkan langkah terbaru mereka untuk pemberantasan konten negatif di jagat internet Tanah Air.

Dalam konferensi pers yang digelar hari ini, mereka menjelaskan akan menggunakan teknologi dengan kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi dan memblokir akses serta penyebaran konten negatif. Rencananya, teknologi tersebut mulai dijajal pada akhir 2017.

Teknologi tersebut diklaim oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan akan meringankan serta mempercepat tugas tim pengawas dan analisa konten negatif yang bekerja. Selain itu, sistem dan database yang dihasilkan oleh teknologi cerdas tersebut bisa dipergunakan untuk kebutuhan berbagai institusi pemerintahan yang juga memerangi konten negatif.

"Nanti sistemnya crawling, secara otomatis teknologi ini akan membuka seluruh website yang ada di jagat dunia maya dan mencari konten-konten yang terindikasi konten negatif. Konten seperti video pun juga bisa terdeteksi," ungkap Samuel di kantor Kementrian Kominfo, Jakarta (9/10/2017).



Konten negatif yang sudah diperoleh dari hasil crawling nantinya akan diproses menjadi sebuah database. Database ini akan dibenamkan dalam teknologi cerdas tersebut ketika dipinjamkan ke lembaga lain. Misalnya, jika badan BPOM membutuhkannya untum memberantas penjualan obat terlarang, maka database teknologi ini bisa dimodifikasi.

Samuel juga menuturkan,teknologi tersebut juga nantinya dipergunakan oleh operator penyedia layanan sehingga pengawasan yang dilakukan oleh penyedia layanan bisa terintegrasi dengan pengawasan dari pemerintah.

"Konten negatif tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 yang merupakan perubahan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, khususnya dasar hukumnya di Pasal 2 dan Pasal 40 ayat (2). Untuk konten pornografi saja saat ini kita baru bisa memblokir 200 ribuan situs dari jumlah diperkirakan ada 30 juta situs atau konten pornografi," beber Samuel.



Teknologi yang dipergunakan merupakan hasil dari lelang tender yang digelar oleh Kementrian Kominfo tahun lalu. Disebutkan bahwa PT INTI akan menjadi penyedia teknologi tersebut dengan nilai Rp198 miliar. Samuel menolak jika teknologi yang dipergunakan akan bekerja seperti teknologi yang diimplementasikan di Amerika Serikat, yang menyusupi privasi pengguna internet. 

"Kalau dibandingkan dengan Tiongkok, mereka lebih mudah memberantas konten negatif yang beredar pada internet di negara. Itu karena 80 persen konten mereka adalah konten lokal. Tapi, kita tidak akan seperti Tiongkok atau Amerika Serikat, teknologi crawling ini bersifat jamak. Jadi, mengumpulkan data yang beredar di internet tidak hingga masuk ke ranah privasi pengguna internet," ungkapnya.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.