Cloud dan AI Jadi Kunci Indonesia Go Digital di 2020

Cahyandaru Kuncorojati    •    Jumat, 24 Nov 2017 19:13 WIB
teknologikecerdasan buatan
Cloud dan AI Jadi Kunci Indonesia Go Digital di 2020
Vice President & Managing Director Sage Software Asia Robin Chao

Jakarta: Seperti yang sering digaungkan beberapa tahun ini bahwa Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara di tahun 2020. Potensinya untuk itu juga sudah dimiliki sejak saat ini.

Diungkapkan Vice President & Managing Director Sage Software Asia Robin Chao, apabila Indonesia mulai go digital secara masif hingga saat ini, visi tersebut bisa terwujud. Dampaknya juga sangat besar bagi kesejahteraan negara dan warga negara Indonesia.

"Pertumbuhan pendapatan meningkat hingga 80 persen, pertumbuhan inovasi bisa 17 kali lebih tinggi. Selain itu perekrutan kerja juga akan meningkat, jadi digitalisasi justru membuka banyak lapangan kerja baru," ungkap Chao.

Chao membeberkan 3 potensi yang dimiliki Indonesia dan menjadi alasan untuk segera go digital. Pertama, populasi usia kerja Indonesia yang bisa mencapai 280 juta di tahun 2030 sedangkan kini jumlahnya sudah 175 juta.

Kedua, angka pengguna internet di Indonesia juga terus tumbuh. Jika tahun 2016 mencapai lebih dari 100 juta pengguna, di tahun 2020 bisa mencapai 215 juta pengguna berdasarkan riset Temasek. 

Potensi ketiga, meningkatnya konsumsi kelas menengah yang mulai terbiasa menggunalan layanan e-commerce. Indonesia berkesempatan menjadi pasar e-commerce terbesar di 2025 dengan nilai USD46 miliar.

"Untuk mempercepat implementasi dua teknologi, cloud (komputasi awan) dan AI (kecerdasan buatan) bisa jadi kunci keberhasilan Indonesia go digital dan mengejar visi di 2020. Kedua layanan tersebut akan mendorong implementasi digital di berbagai aspek," ucap Chao.

Menurut Chao layanan cloud bisa membuat setiap bisnis bisa terhubung dengan beragam akses layanan digital jauh lebih mudah. Misalnya layanan manajemen bisnis yang mengatur supply chain, finansial dan komunikasi dengan klien yang terintegrasi dengan lewat layanan cloud.

"Permasalahannya pebisnis kerap mengira layanan cloud hanya untuk perusahaan besar. Padahal usaha kecil dan menengah atau UKM juga bisa menggunakan layanan ini,"jelas Chao.

Teknologi AI menurut Chao jauh lebih penting lagi. Dia ingin orang mengoreksi pemahaman dampak dari AI. Chao mengeaskan bahwa AI tidak menggeser pekerjaan manusia justru membantu manusia bisa lebih produktif dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

"Justru pekerjaan tertentu yang bisa ditangan oleh teknologi AI membuat manusia bisa mengerjakan pekerjaan lainnya yang sesuai dengan keahlian mereka. Kondisi tersebut nantinya membuat munculnya lapangan pekerjaan baru bagi manusia," jelas Chao.

Chao menyebutkan bahwa teknologi AI bisa menggeser 52 persen pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia. Malaysia 51 persen, Filipina 48 persen, dan Thailand 55 persen. Chao menegaskan bahwa AI juga menyediakan layanan yang lebih baik untuk konsumen sehingga bisnis ikut berkembang.


(MMI)

Huawei Nova 2i, Jawaban 4 Kamera di Kelas Menengah
Review Smartphone

Huawei Nova 2i, Jawaban 4 Kamera di Kelas Menengah

1 week Ago

Huawei Nova 2i dilengkapi dengan 4 kamera. Inilah ulasan lengkap performanya. 

BERITA LAINNYA
Video /