Facebook Biarkan Grup Konten Bajakan?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 16 Jul 2018 12:18 WIB
media sosialfacebook
Facebook Biarkan Grup Konten Bajakan?
Facebook kesulitan untuk melawan pembajakan konten. (AFP PHOTO / Oli SCARFF)

Jakarta: Facebook gagal memberantas pembajakan film di media sosialnya, menurut laporan Business Insider. Dilaporkan, terdapat grup di Facebook -- beberapa di antaranya memiliki ribuan anggota -- yang membagikan film secari ilegal, termasuk film-film yang baru tayang.

Anehnya, kebanyakan grup ini tidak berusaha untuk merahasiakan keberadaannya. Kelompok-kelompok tersebut bukanlah kelompok tertutup yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu.

Faktanya, menurut laporan Business Insider, sebagian besar grup yang membagikan konten ilegal ini merupakan grup publik dengan judul seperti "Full HD English Movie". Banyak dari grup ilegal ini juga sudah berumur beberapa tahun. Ada beberapa grup yang telah hadir sejak 2016.

Masalahnya, grup-grup ini tidak hanya menampilkan tautan ke konten ilegal yang ada di situs lain atau menawarkan tautan untuk mengunduh film bajakan, kelompok tersebut tampaknya secara aktif mengunggah video di platform Facebook.

Konten yang tersedia dalam grup-grup tersebut termasuk film populer seperti The Greatest Showman, Transformers: The Last Knight dan bahkan film terbaru seperti Ant-Man and The Wasp, meski kualitas videonya masih buruk.


Contoh grup yang menyebarkan konten bajakan. 

Pembajakan film bukanlah hal yang baru di internet. Grup dan forum film bajakan telah muncul sejak tersedia internet dengan kecepatan cukup tinggi untuk mengunduh film atau menyiarkan film. Masalahnya, Facebook tampaknya enggan untuk mengatasi masalah pembajakan ini.

Kepada Business Insider, Facebook berkata bahwa konten bajakan bukanlah tanggung jawab mereka selama pemegang hak cipta tidak memprotes.

Memang, Facebook memiliki alat berupa Rights Manager, yang membantu para pemilik hak cipta untuk melaporkan konten mereka yang dicuri atau disebarkan secara ilegal. Namun, tampaknya, alat itu tidak cukup mumpuni untuk mencari konten yang tercuri.

Facebook tampaknya memanfaatkan Digital Millenium Copyright Act sebagai alasan untuk tidak mencari konten bajakan karena mereka hanya harus bertanggung jawab ketika mereka tahu akan keberadaan konten itu. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk membiarkan para studio film untuk mencari konten mereka yang dibajak.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.