Penjualan Galaxy S9 Menurun, Samsung Tetap Untung

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 31 Jul 2018 13:05 WIB
samsung
Penjualan Galaxy S9 Menurun, Samsung Tetap Untung
Pendapatan Samsung masih naik. (AFP PHOTO / JUNG Yeon-Je)

Jakarta: Samsung mulai merasakan dampak dari pasar smartphone yang mulai jenuh.

Dalam laporan keuangannya, perusahaan asal Korea Selatan itu mengungkap bahwa keuntungan operasional mereka naik enam persen. Ini adalah pertumbuhan laba paling rendah dalam setahun yang dialami Samsung.

Sementara itu, pendapatan Samsung naik empat persen berkat tingginya permintaan akan chip memori mereka, yang digunakan di berbagai perangkat, mulai dari smartphone sampai server.

Laporan keuangan Samsung menunjukkan bahwa permintaan akan ponsel barunya -- Galaxy S9 dan S9 Plus -- mulai mengalami penurunan. Ini berdampak pada pendapatan divisi mobile Samsung, yang turun 22 persen menjadi KRW22,67 triliun (Rp292,3 triliun).

Samsung juga mengatakan bahwa kondisi pasar akan tetap "menantang" pada semester dua tahun ini karena ketatnya kompetisi.

Beberapa kuartal belakangan, pertumbuhan pasar smartphone memang mulai melambat. Vendor smartphone semakin kesulitan untuk memberikan fitur baru yang membedakan ponselnya dengan ponsel pesaing. Harga ponsel juga terus naik.

Penurunan penjualan smartphone ini tidak mengejutkan. Para analis telah menduga bahwa penjualan smartphone Samsung akan turun pada kuartal ini.

Pada April, Samsung mengatakan bahwa bisnis smartphone mereka akan mengalami penurunan karena "penjualan model premium yang stagnan di tengah rendahnya tuntutan konsumen dan naiknya biaya marketing."

Selama ini, Samsung memang dikenal sebagai perusahaan pembuat ponsel dan TV. Namun, mereka juga berhasil menjual lebih banyak chip memori dari perusahaan lain di dunia. Tahun lalu, Samsung menjadi perusahaan pembuat semikonduktor terbesar, mengalahkan Intel.

Pada kuartal ini, pendapatan bisnis memori Samsung naik 33 persen menjadi KRW18,5 triliun (Rp238,5 triliun). Sementara penjualan bisnis semikonduktor mereka naik 25 persen menjadi KRW21,99 triliun (Rp283,5 triliun).


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.