Facebook Buka Akses Data Pengguna Eropa ke AS

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 17 Oct 2016 17:29 WIB
facebook
Facebook Buka Akses Data Pengguna Eropa ke AS
Facebook telah menandatangani perjanjian Privacy Shield di Eropa. (AP Photo / Jeff Chiu)

Metrotvnews.com: Facebook baru saja menandatangani perjanjian data Uni Eropa yang baru. Perjanjian itu mengizinkan informasi warga Eropa untuk ditransfer ke Amerika Serikat. Tidak tertutup kemungkinan, hal ini akan memicu munculnya perdebatan tentang privasi yang baru.

Facebook baru saja menandatangani perjanjian Privacy Shield, perjanjian kontroversial yang memungkinkan perusahaan teknologi AS untuk memindahkan informasi warga Uni Eropa keluar Eropa. Bagi Facebook, perjanjian ini meliputi data iklan dan Workplace, layanan khusus bisnis yang baru diperkenalkan minggu lalu.

Menurut The Telegraph, keputusan Facebook untuk menyetujui perjanjian ini dapat berdampak besar. Perjanjian antara Uni Eropa dan AS sebelum Privacy Shield, yaitu perjanjian Safe Harbor dihapuskan oleh Mahkamah Eropa (ECJ) karena adanya tuntutan terhadap Facebook. Kemungkinan, keputusan Facebook kali ini juga akan mendorong para kritikus untuk meninjau perjanjian Privacy Shield dengan lebih saksama.

Pada bulan Oktober tahun lalu, Mahkamah Eropa menghapuskan perjanjian Safe Harbour yang telah berlaku selama 15 tahun karena perjanjian itu dianggap memudahkan perusahaan AS untuk memata-matai warga Eropa. Hal ini mempersulit perusahaan-perusahaan seperti Facebook, Google dan Microsoft untuk memindahkan data antar benua.

Uni Eropa secara ketat mengatur bagaimana informasi pribadi dari para warganya disimpan dan apakah data tersebut boleh ditransfer ke kawasan lain. Tanpa adanya perjanjian Safe Harbour, perusahaan-perusahaan akan sulit untuk memindahkan data penggunanya yang ada di Eropa.

Privacy Shield merupakan perjanjian pengganti Safe Harbour. Ia didesain untuk memastikan keamanan warga Eropa. Ia mulai aktif di bulan Juli lalu. Google dan Microsoft telah mengadopsi perjanjian ini.

Namun, Facebook baru menandatangani perjanjian ini pada akhir bulan September. Perjanjian ini hanya berlaku oleh 2 elemen dari media sosial tersebut, yaitu Workplace dan teknologi iklan yang menggunakan data pelanggan dari perusahaan lain untuk melakukan iklan tertarget.


(MMI)