Curi Data Pengguna iPhone, Google Dituntut Inggris

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 01 Dec 2017 15:09 WIB
google
Curi Data Pengguna iPhone, Google Dituntut Inggris
Google dituntut di Inggris. (AFP PHOTO / LOIC VENANCE)

Jakarta: Google mungkin harus membayar kompensasi pada lebih dari 5 juta warga Inggris jika tuntutan dari sebuah grup bernama "Google You Owe Us" dimenangkan.

Grup tersebut menuntut Google, mengklaim bahwa perusahaan pencarian itu telah mengumpulkan informasi pribadi pengguna dengan mengacuhkan pengaturan privasi pada peramban Safari di iPhone. 

Google, Facebook dan beberapa jaringan iklan digital tertangkap mengacuhkan pengaturan privasi pengguna, memungkinkan mereka untuk memasang cookies di iPhone bahkan jika penggua memblokir cookies, lapor The Verge.

Ketika itu, Google mengklaim bahwa mereka hanya melakukan itu pada Google+. Namun, tuduhan yang ditujukan pada Google menyebutkan bahwa Google menemukan cara untuk melacak "sejarah browsing internet, yang kemudian Google jual ke layanan iklan tertarget."

Memang, pendapatan utama Google datang dari iklan tertarget dengan menyajikan iklan yang sesuai ke pengguna berdasarkan informasi pribadi tentang pengguna. Mantan direktur dari badan konsumen Which? di Inggris, Richard Lloyd menuntut Google ke pengadilan bersama perusahaan hukum Mischon de Reya. 

"Saya percaya, apa yang Google lakukan melanggar peraturan. Tindakan mereka telah memengaruhi jutaan orang dan kami akan meminta pengadilan untuk menyelesaikan masalah pelanggaran privasi ini," kata Lloyd dalam wawancara dengan The Guardian.

"Melalui tindakan ini, kami akan mengirimkan pesan kuat pada Google dan perusahaan teknologi lain di Silicon Valley bahwa kita tidak takut untuk melawan balik jika peraturan kami dilanggar."

Kasus ini cukup unik karena meski perusahaan besar sering dituntut di Amerika Serikat, hal itu jarang terjadi di Inggris. Pada 2012, Google terpaksa harus membayar denda sebesar USD22,5 juta (Rp305 miliar) terkait pelanggaran privasi pada Safari. Itu merupakan salah satu denda terbesar yang pernah diberikan Komisi Dagang Federal (FTC). 

Sekarang, Google akan membela diri mereka dari tuduhan ini. "Ini bukan hal baru," kata juru bicara Google. "Kami telah membela diri dari tuntutan serupa sebelum ini. Kami percaya, kasus ini tidak berdasar dan kami akan membantahnya."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.