Aplikasi Google Arts and Culture Rasis?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 17 Jan 2018 20:29 WIB
googleaplikasi
Aplikasi Google Arts and Culture Rasis?
Anda bisa mencocokkan foto selfie Anda dengan lukisan ternama di dunia. (Mashable)

Jakarta: Aplikasi Google Arts and Culture telah tersedia di Play Store dan App Store sejak dua tahun yang lalu. Namun, belum lama ini, aplikasi tersebut menjadi salah satu aplikasi terpopuler di kedua toko aplikasi karena satu update kecil.

Fitur terbaru pada aplikasi itu memungkinkan Anda mengambil selfie, dan aplikasi akan mencocokkan foto Anda dengan karya seni ternama di seluruh dunia. Aplikasi itu menggunakan kecerdasan buatan dan pengenalan wajah untuk menganalisa pola di wajah Anda dan menemukan pola serupa di foto dan lukisan asli. 

Sayangnya, seperti yang disebutkan oleh Mashable, aplikasi buatan Google ini memiliki satu masalah besar. Aplikasi ini tidak bisa mencocokkan orang-orang kulit warna.

Database aplikasi ini juga tidak menyertakan banyak lukisan dari Amerika Latin atau kawasan lain di luar Eropa. Orang-orang Hispanik biasanya akan dicocokkan dengan lukisan orang kulit putih. 

Seorang penulis Mashable yang merupakan warga Amerika keturunan Meksiko mencoba untuk menggunakan aplikasi Google Arts and Cutlure. Dari lima selfie yang dia ambil, tiga foto dicocokkan dengan lukisan orang Eropa dan dua lainnya dengan lukisan Asia.

Dia menyebutkan, dia telah mencoba untuk mengambil foto dengan pencahayaan yang berbeda dengan mimik muka yang juga berbeda, tapi dia tidak bisa membuat agar selfie miliknya dicocokkan dengan lukisan karya pelukis Amerika Latin. 

Sejauh ini, lukisan yang dikoleksi kolektor biasanya memang lukisan yang dibuat di Eropa atau negara-negara Barat, seperti lukisan karya Van Gogh, Picasso, Monet, Da Vinci dan Matisse.

Memang, sebagian kolektor mencoba untuk mencari lukisan asal Asia. Namun, kebanyakan dari mereka tetap tidak terlalu peduli dengan lukisan karya pelukis Amerika Latin. 

Hal ini bisa diliihat dari database Google Arts and Culture. Database aplikasi itu memiliki 700 ribu lukisan dari Amerika Serikat, lebih dari 75 ribu dari Inggris Raya, dan hampir 60 ribu lukisan dari Jerman.

Sementara jumlah lukisan dari Meksiko hanya mencapai 16 ribu dan jumlah lukisan dari Peru hanya mencapai 3,5 ribu. 

Memang, hal ini bukan berarti aplikasi Google Arts and Culture harus dihapuskan. Proyek Google ini juga masih relatif baru dan Google terus berusaha untuk menambahkan berbagai karya seni ke database aplikasinya. Meskipun begitu, sedikitnya lukisan dari Amerika Latin adalah sesuatu yang mengecewakan. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.