Bekraf Dukung Game Lokal Ghost Parade Tembus Kancah Internasional

Anggi Tondi Martaon    •    Rabu, 17 Oct 2018 12:54 WIB
bekraf
Bekraf Dukung Game Lokal Ghost Parade Tembus Kancah Internasional
Game Ghost Parade (Foto:Dok.Metro TV)

Jakarta: Game bergenre horor tak selalu terkesan menakutkan. Contohnya, Ghost Parade, game yang diproduksi oleh Studio Lentera Nusantara.

Founder dan Creative Director Lentera Nusantara Azizah Assattari menjelaskan, Ghost Parade merupakan game sidecrolling 2D yang menceritakan petualangan Suri, seorang siswi yang memilih melewati hutan keramat Svaka sepulang dari sekolah. Dalam perjalananya, Suri menjumpai berbagai jenis makhluk halus.

"Di sana banyak hantu. Kalau kita sih menyebutnya lelembut, siluman, dan makhluk-makhluk lain. Ada juga hewan-hewan hutan," kata Azizah dalam program Kini Indonesia di Metro TV.

Uniknya, dalam permainan tersebut Suri malah berteman dengan makhluk halus di hutan. Lelembut meminta bantuan Suri menjaga kelestarian alam dari tangan oknum yang berniat merusak hutan.

Terdengar aneh memang saat manusia dan makhluk astral bekerja sama. Namun, jika dikelola dengan baik justru dapat memberikan pesan positif bagi pengguna game tersebut.

Hal itulah yang mendorong Azizah dan Lentera Nusantara merancang Ghost Parade. Mereka ingin menyosialisasikan isu kerusakan lingkungan.

"Muncul ide bagaimana kalau kita bawa semua makhluk gaib ini ke dalam satu platrform, satu cerita. Jadi satu intellectual property begitu. Maka muncul Ghost Parade ini," ucapnya.

Proyek Ghost Parade telah dimulai sejak 2015. Awalnya, Lentera Nusantara menampung masukan dari masyarakat terkait makhluk halus melalui media sosial.

Director Lentera Nusantara Wahyu Agung Pramudito menjelaskan, masukan tersebut menjadi bahan dalam menciptakan karakter hantu di Ghost Parade. Sambil menyempurnakan, Ghost Parade mulai mengikuti berbagai event, awalnya di Singapura pada 2015.

"Di sana kita bertemu dengan mentor yang sudah 25 tahun berkutat di game. Kita dapat banyak bantuan. Awalnya, kita bikin riset, game sederhana dan tidak sebagus yang sekarang. Saat dia lihat, dia memberikan banyak masukan," kata Wahyu.

Selain di Singapura, Ghost Parade juga pernah menghadiri undangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengikuti Game Connection 2018. Acara yang digelar di San Francisco, Amerika Serikat, itu menjadi batu loncatan besar Ghost Parade.

"Jadi, waktu itu kita pergi  dengan undangan dari Bekraf dalam rangka mempresentasikan game Indonesia. Waktu pergi itu barulah kita mempromosikan game kita, promosi merchandise. Dan di situ akhirnya bertemu dengan publisher yang akan launching bersama-sama pada 2019," ucapnya.

 

Sementara itu, Kepala Bekraf Triawan Munaf mengaku bersyukur bisa menjadi bagian Ghost Parade dalam meraih kesuksesan. Diharapkan, ke depan akan banyak produksi game lokal yang dilirik dunia.

"Ya, memang peranan pemerintah seperti itu. Memberikan semacam fasilitas untuk gamers atau pembuat game Indonesia," kata Triawan.

Pasar game terbilang cukup menjanjikan. Di Indonesia saja, jumlah gamers mencapai 43,7 juta orang. Angka tersebut berpotensi memberikan penghasilan hingga Rp11,9 triliun pada 2017.

Kualitas game buatan Indonesia juga sudah baik. Namun, dibutuhkan berbagai upaya ekstra agar game lokal mampu menguasai pasar Indonesia, bahkan dunia. "Itu adalah tujan kita agar market di Indoensia bisa diisi oleh game lokal. Sekarang masih 1 persen," kata Triawan.

Oleh karena  itu, Triawan menyebutkan pemerintah akan membantu mengembangkan sektor game Indonesia, di antaranya melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensi masyarakat Indonesia.

"Saya punya harapan yang tinggi kepada anak muda agar menekuni game lebih serius. Tapi seperti yang saya bilang, kuasai dahulu Indonesia, baru ke luar. Dan kalau ada masalah, sampaikan kepada kami setiap saat. Biasanya melalui asosiasi game ke Bekraf, berkomunikasi dan mencari solusi bersama-sama," ujarnya.


(ROS)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.