Mastel Dorong Kemenkominfo Tunda Revisi PP 82 Tahun 2012

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 07 Nov 2018 10:22 WIB
kominfo
Mastel Dorong Kemenkominfo Tunda Revisi PP 82 Tahun 2012
Ilustrasi data center. (Wikimedia Commons)

Jakarta: Mastel (Masyarakat Telematika Indonesia) mendorong pemerintah mempertimbangkan kembali revisi PP (Peraturan Pemerintah) 82 Tahun 2012 yang mereka umumkan pada akhir Oktober lalu.

Sebelum revisi, PP 82 menyebutkan bahwa semua data dari Indonesia harus tersimpan di data center yang ada di dalam negeri. Melalui revisi ini, pemerintah akan mengendorkan peraturan sehingga hanya data-data tertentu saja yang harus tersimpan di data center di Indonesia.

"Mastel mendesak pemerintah untuk menunda revisi PP 82," kata Ketua Umum Mastel, Kristiono.

"Relaksasi terhadap peraturan relokasi data dapat berdampak sistemik pada ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, pertahanan dan keamanan di era ekonomi data."

Kristiono menganggap, pemerintah sebaiknya membuat regulasi terkait perlindungan data sebelum mengubah PP 82.

"Jangan ada relaksasi tanpa ada Undang-Undang yang melindungi data," katanya. "Data adalah bagian dari keberlangsungan bangsa."

Dia juga menekan bahwa data sangat penting, dia menyebut data sebagai "the new oil". Keputusan pemerintah untuk merevisi PP 82 dianggap berbahaya karena saat ini, Indonesia tidak memiliki UU perlindungan data.

Setelah revisi PP 82, data akan terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu data strategis tingkat tinggi, menengah, dan rendah.

Hanya data strategi tinggkat tinggi yang harus disimpan di dalam negeri. Dengan kata lain, para penyelenggara layanan digital tidak lagi harus membangun data center di Indonesia.

Kristiono menganggap, pembagian data ini justru akan menciptakan masalah karena pemahaman tentang penting atau tidaknya data masih belum sama.

Sementara itu, IDPRO (Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia) mengatakan bahwa perubahan pada PP 82 dapat mengganggu bisnis data center di Indonesia. Menurut data dari Frost & Sullivan, investasi data center di Indonesia naik 20-30 persen per tahun sejak 2014.

Pertumbuhan ini didorong oleh penetrasi internet dan cloud dan juga adanya regulasi. Pada 2014, investasi data center di Indonesia mencapai USD430 juta. Namun, jika revisi PP 82 diberlakukan, ini akan dapat menurunkan pertumbuhan bisnis di industri data center.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.