Cara Epson dan Websis Bawa Teknologi ke Ruang Kelas

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 13 Sep 2018 18:54 WIB
epson
Cara Epson dan Websis Bawa Teknologi ke Ruang Kelas
Zanipar Siadari, Product Marketing Visual Instrument Dept. Head Epson Indonesia. (Medcom.id)

Jakarta: Bersama dengan Websis, Epson Indonesia mengadakan seminar Tech-Inspired Educators Vol. 2 untuk menunjukkan betapa pentingnya penggunaan teknologi di dalam ruang kelas. 

Ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Anies Baswedan pernah menyebutkan bahwa para guru masih ada di abad ke-20 sementara para murid sudah memasuki abad 21. Ini menunjukkan bahwa para murid kini jauh lebih cepat mengadopsi teknologi baru daripada guru. Dan ini merupakan tantangan bagi para guru. 

Ada beberapa cara untuk mengadopsi teknologi ke dalam ruang kelas. SMP Al-Azhar 1 memutuskan untuk membuat smart classroom dengan tablet sebagai alat utama dalam kegiatan belajar mengajar. Program ini tergolong sukses.

Program smart classroom ini dimulai pada tahun ajaran 2015/2016. Ketika itu, program tersebut hanya dijalankan pada satu kelas unggulan yang berisi 24 murid dengan 15 guru.

Pada tahun ajaran berikutnya, program ini diadakan untuk satu angkatan dengan 250 murid dan 45 guru dan pada tahun ajaran ini, program smart classroom telah diimplementasikan pada dua angkatan dengan 450 murid. 


Contoh penggunaan proyektor interaktif Epson. (Medcom.id)

Namun, Adi Respati, Education and Research Head, Websis mengatakan bahwa dia hanya menganjurkan penggunaan metode ini pada anak-anak sudah duduk di bangku kelas 4 SD atau lebih dewasa.

Untuk anak-anak kelas 3 SD atau lebih muda, dia mengajarkan metode lain, yaitu penggunaan satu perangkat untuk seluruh kelas. 

Ini bisa dilakukan dengan proyektor interaktif milik Epson. Sama seperti proyektor kebanyakan, proyektor interaktif memang berfungsi untuk memproyeksikan gambar ke suatu permukaan.

Proyektor interaktif Epson ini bisa memproyeksikan gambar ke berbagai permukaan, seperti tembok, papan tulis atau permukaan lain selama permukaan itu datar dan tidak goyang. 

Zanipar Siadari, Product Marketing Visual Instrument Dept. Head Epson Indonesia mengatakan, proyektor interaktif pada awalnya digunakan di kantor. Namun, proyektor itu juga terbukti efektif untuk digunakan di dalam kelas. 

"Kami mulai membuat proyektor interaktif sejak 2011. Sejak itu, kami terus melakukan inovasi, sampai kami menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan edukasi," kata Zanipar saat ditemui di Sheraton Hotel, Gandaria City. 

Seperti namanya, proyektor interaktif memungkinkan guru dan murid untuk berinteraksi dengan konten yang diproyeksikan, baik menggunakan "pena" yang Epson sediakan ataupun dengan jari. Konten itu kemudian bisa disimpan ke USB, dicetak atau dibagikan melalui email. 

Untuk masalah umur proyektor, Zanipar menjelaskan, proyektor memiliki lampu sebagai sumber cahaya. Biasanya, bola lampu itu akan bisa bertahan selama 10-15 ribu jam penggunaan. Setelah itu, lampu perlu diganti.

Sementara proyektor yang menggunakan laser, meski memiliki harga yang lebih mahal, bisa bertahan lebih lama, yaitu 20 ribu jam penggunaan. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.