Facebook Hapus 583 Juta Akun Palsu

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 16 May 2018 09:52 WIB
media sosialfacebook
Facebook Hapus 583 Juta Akun Palsu
Facebook urus konten ilegal. (AFP PHOTO / Mladen ANTONOV)

Jakarta: Bulan lalu, Facebook merilis panduan regulasi konten untuk pertama kalinya. Sekarang, perusahaan media sosial itu memberikan laporan pertama terkait tindakan yang mereka lakukan pada konten ilegal. Laporan ini mungkin akan dirilis setiap kuartal.

Dalam laporan itu, Facebook membahas tentang konten serta akun yang telah mereka blokir terkait enam masalah yang berbeda yaitu kekerasan eksplisit, kegiatan seksual dan ketelanjangan, propaganda teroris, ujaran kebencian, spam juga akun palsu. 

Melalui laporan tersebut, Facebook menjelaskan bagaimana konten tersebut dilihat oleh penggunanya, berapa banyak konten yang telah Facebook hapus dan berapa banyak konten yang dihapus sebelum dilaporkan oleh pengguna Facebook, lapor Engadget

Dalam kuartal ini, spam dan akun palsu adalah masalah terbesar yang harus Facebook hadapi. Facebook menghapus 837 juta konten spam dan 583 juta akun palsu.

Mereka juga telah menindak 21 juta konten terkait kegiatan seksual, 3,5 juta konten yang mengandung kekerasan, 2,5 juta konten ujaran kebencian dan 1,9 juta konten terorisme. 

Dalam beberapa kasus, sistem algoritma Facebook dapat menemukan dan menandai konten bermasalah sebelum pengguna melaporkannya.

Sistem mereka berhasil menemukan hampir 100 persen konten spam dan propaganda terorisme, hampir 99 persen akun palsu dan sekitar 96 persen post dengan aktivitas seksual. 

Sementara tingkat akurasi sistem Facebook untuk mengenali kekerasan eksplisit mencapai 86 persen. Sayangnya, Facebook masih kesulitan untuk menandai konten ujaran kebencian. Sistem mereka hanya bisa menandai sekitar 38 persen dari post yang akhirnya mereka tindak. 

"Seperti yang Mark Zuckerberg katakan di F8, kami masih punya banyak tugas untuk menghentikan konten ilegal," kata VP of Product Management, Guy Rosen dalam sebuah blog post.

"Salah satu alasannya adalah karena meski teknologi seperti kecerdasan buatan memang menjanjikan, tapi ia masih perlu dikembangkan untuk bisa mengenali konten ilegal karena konteks memiliki peran penting."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.