uCast Ingin Rangkul Media Perbesar Pasar

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 14 May 2018 16:27 WIB
teknologi
uCast Ingin Rangkul Media Perbesar Pasar
Ilustrasi.

Jakarta: Kehadiran internet yang semakin cepat membuat banyak pengguna internet yang gemar mengkonsumsi konten video. Perubahan ini dilihat juga sebagai peluang bagi pihak yang ingin meraup pendapatan dari iklan berbasis video.

uCast, platform jaringan dan monetisasi internet TV menyatakan baru saja hadir di Indonesia lewat kemitraan dengan MIX Network.

Mereka mengaku ingin membuka peluang bagi perusahaan media di Indonesia yang ingin memperoleh pendapatan dari iklan berbasis video. uCast memprediksi pendapatan tahun ini bisnis tersebut mencapai Rp4,3 triliun.

uCast diklaim menyediakan solusi untuk perusahaan media karena sudah mencakup semua komponen yang dibutuhkan mulai dari infrastruktur, peranti monetisasi video, sarana konten dengan cakupan global dan kemampuan menghantarkan konten ke peranti bergerak atau mobile seperti smartphone.

Mengutip hasil riset Statitsa, uCast menyebutkan pendapatan dari periklanan digital berbasis video diproyeksikan mencapai USD308 juta atau setara Rp4,3 triliun pada tahun ini, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) periklanan berbasis video mencapai 25,9 persen mencapai USD775 juta atau Rp10,8 triliun hingga 2022.

Pasar periklanan digital berbasis video inilah yang menjadi potensi sumber pendapatan baru bagi perusahaan media. Statista memperkirakan rata-rata pendapatan per pengguna dari segmen periklanan video diperkirakan mencapai USD2,74 (Rp38 ribu) per orang.

Konsumsi iklan berbasis video oleh konsumen Indonesia menunjukkan kecenderungan yang meningkat, hingga lebih dari 300 persen pada 2017 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, pertumbuhan belanja iklan video juga meningkat hingga lebih dari 700 persen.

"Tujuan kami adalah memungkinkan para pemilik konten di Indonesia mengakses pasar global dalam rangka akuisisi dan distribusi konten,” tutur CEO uCast Rex Wong.

Sebagai tambahan, riset Nielsen “Cross-platform Report 2017” menunjukkan konsumen berusia 21 tahun sampai 49 tahun tergerak untuk berkoneksi dengan merek berupa panggilan telepon, kunjungan ke gerai dan membeli produk secara daring, setelah menonton iklan video.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.