Baterai Galaxy Note 7 Bisa Meledak, Apa Penyebabnya?

Riandanu Madi Utomo    •    Selasa, 11 Oct 2016 21:53 WIB
galaxy note 7
Baterai Galaxy Note 7 Bisa Meledak, Apa Penyebabnya?
Kesalahan pada baterai buat Galaxy Note 7 mudah meledak

Metrotvnews.com: Samsung sedang menghadapi masa-masa berat.

Perusahaan teknologi asal Korea Selatan teresebut saat ini tengah berusaha menuntaskan kasus meledaknya ponsel Galaxy Note 7 yang merupakan salah satu ponsel flagship mereka.

Kondisi tersebut diperparah dengan masih ditemukannya kasus serupa pada unit Galaxy Note 7 baru yang diklaim aman oleh Samsung. Pertanyaannya, mengapa Galaxy Note 7 mudah meledak?

Sebelumnya, Samsung menjelaskan masalah pada kasus meledaknya Galaxy Note 7 karena kesalahan pada baterai yang tertanam di dalam ponsel tersebut. Kesalahan tersebut mengakibatkan dua kutub pada baterai yang seharusnya terpisah menjadi bertemu, sehingga memicu korsleting dan berujung pada ledakan di perangkat. Namun, hal tersebut ternyata juga belum tentu benar.

Menurut The Verge, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan sebuah perangkat bisa terbakar. Salah satu yang paling berpotensi adalah keinginan dari pembuat perangkat yang memaksakan diri untuk menghadirkan baterai dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi dari sebelumnya. 

Hal tersebut memang wajar karena ponsel saat ini semakin canggih sehingga memerlukan konsumsi daya yang besar. Di sisi lain, konsumen tidak ingin daya baterai pada smartphone menjadi cepat habis. Kondisi tersebut memaksa produsen ponsel untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi baterai agar ponsel dapat diperasikan dalam jangka waktu yang lama.

Teknologi baterai sendiri juga tidak banyak berkembang. Baterai jenis Lithium-Ion yang banyak digunakan di ponsel pintar saat ini rata-rata memiliki ketahanan baterai hingga hampir 90 persen dari kapasitasnya.

Menurut ilmuwan dari Cornell University, yaitu Lynden Archer, kondisi tersebut menimbulkan tren di antara pembuat ponsel. Mereka saling berlomba untuk menghadirkan baterai yang memiliki ketahan yang lebih baik, meski hanya sedikit.

Untuk memahami lebih dalam mengenai penyebab meledaknya baterai Galaxy Note 7, mari kita bahas satu per satu mulai dari cara kerjanya.

Cara kerja baterai Litihium-Ion

Baterai Lithium-Ion memiliki dua kutub atau elektroda. Satu elektroda bernama katoda adalah kutub positif baterai. Saat baterai penuh, katoda akan diisi oleh ion lithium yang mengandung listrik. Ion lithium tersebut nantinya akan mengalir ke kutub negatif alias anoda ketika baterai digunakan. Ion lithium ini juga yang memberikan "tenaga" untuk ponsel.

Meski bekerja berdampingan, bagian katoda dan anoda tidak bisa saling bertemu. Jika bertemu, energi yang ada di dalam ion lithium akan menjadi tidak stabil bahkan bisa memicu ledakan. Untuk mengatasinya, produsen baterai biasanya meneggunakan pemisah khusus untuk mencegah bagian anoda dan katoda bertemu.

Bagian pemisah tersebut yang dikatakan bermasalah pada Galaxy Note 7. Menurut The Verge, kesalahan pada bagian pemisah antara anoda dan katoda pada Galaxy Note 7 telah mengakibatkan kedua kutub untuk saling bertemu sehingga memicu ledakan.

Pemicu lain meledaknya baterai

Selain masalah pada pembatas antara bagian anoda dan katoda, sistem pengisian baterai yang terlalu cepat juga bisa menjadi pemicu baterai mudah meledak. Menurut Archer, energi pada ion lithium atau biasa disebut dengan elektrolit pada dasarnya sangat sulit untuk dikontrol. Elektrolit yang terlalu cepat bergerak bisa membuat baterai semakin panas, dan ketika itulah bagian anoda dan katoda bisa saling bertemu karena pembatasnya rusak oleh panas.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai "thermal runaway" dan hal tersebut juga yang membuat beberapa ponsel secara otomatis mati ketika baterainya dianggap terlalu panas. Langkah tersebut sebenarnya dilakukan untuk mencegah baterai tiba-tiba meledak karena terlalu panas.

Ironisnya lagi, salah satu penyebab baterai mudah cepat panas adalah teknologi fast charging atau pengisian cepat yang saat ini banyak ditemukan di ponsel pintar. Setiap kali elektrolit bergerak di dalam baterai, panas akan timbul sebagai hasil dari reaksi kimia di dalamnya. Saat baterai diisi, elektrolit akan mengalir dari anoda ke katoda. 

Semakin kencang alirannya, maka semakin cepat baterai terisi, namun panas yang ditimbulkan akan semakin besar. Kembali lagi, panas bisa menghancurkan pembatas antara anoda dan katoda sehingga bisa menyebabkan ledakan.

Baterai juga bisa meledak karena overcharging atau pengisian daya berlebih. Menurut ilmuwan dari Pricenton University, Dan Steingart, baterai bisa diibaratkan sebagai sebuah karet gelang. Proses pengisian baterai mirip dengan proses menarik karet gelang tersebut, jika ditarik terus menerus karet gelang akan putus. Hal yang sama juga dapat terjadi pada baterai, yang mana jika diisi terus menerus maka baterai bisa rusak bahkan meledak.

Terakhir, penggunaan tegangan berlebih pada komponen baterai juga bisa menjadi pemicu meledaknya baterai tersebut. Para produsen ponsel biasanya memang menaikkan tegangan pada baterainya agar bisa menghadirkan daya lebih besar untuk ponsel. Caranya bisa dengan mencampurkan bahan seperti nikel pada lithium yang ada di dalam baterai.

Sayangnya, penambahan komponen tersebut justru bsia membuat elektrolit menjadi tidak stabil sehingga baterai akan mudah terbakar atyau bahkan meledak. Beberapa ilmuwan memang tengah berusaha menciptakan elektrolit yang tidak mudah terbakar sebagai solusi dari masalah ini. Namun, penggunaan elektroilit khusus tersebut jutsru bisa mengurangi daya tahan baterai.

Baterai Lithium-Ion memang merupakan teknologi lama dan sudah sepatutnya diganti. Sayang, penggantinya masih belum ada hingga saat ini. Dengan demikian, sudah seharusnya para produsen ponsel dan baterai untuk menghadirkan inovasi baru pada baterai sehingga konsumen aman dari kecelakaan, namun daya tahan baterai bisa terus ditingkatkan.




(MMI)