YouTube Tambahkan Efek Layar Hijau AR di Fitur Stories

Lufthi Anggraeni    •    Selasa, 06 Mar 2018 12:22 WIB
youtubegoogle
YouTube Tambahkan Efek Layar Hijau AR di Fitur Stories
YouTube tengah mengujikan fitur layar hijau AR dengan sekelompok kecil kreator konten untuk fitur Stories miliknya.

Jakarta: YouTube tengah mengembangkan fitur serupa Snapchat dan Instagram Stories, yang kini dalam proses pengujian beta dengan sekelompok kecil kreator konten ternama. Kini YouTube menambahkan fitur baru yaitu filter layar hijau dengan teknologi Augmented Reality (AR).

Teknologi ini dijelaskan pada blog penelitian Google sebagai fitur yang cukup mengesankan. Google menggunakan jaringan syaraf untuk mengidentifikasi dan memisahkan subyek dari latar belakang.

Efek ini serpa dengan efek layar hijau, memungkinkan kreator untuk menyematkan latar yang diinginkan secara langsung.

Namun, Google menghadirkan sentuhan lebih baik pada fitur ini karena tidak membutuhkan layar hijau sesungguhnya agar dapat memisahkan subjek dengan latar secara lebih mudah. Sistem ini masih belum 100 persen sempurna, dan tampil lebih menyerupai mode portrait pada smartphone model terbaru.

Umumnya, mode portrait pada smartphone model terbaru memiliki kemampuan yang sama, namun dengan tampilan lebih blur atau dengan efek ghosting di tepian pembatas subyek dan latar yang diganti dengan latar lainnya.

Untuk saat ini, Google berencana memanfaatkan versi beta terbatas dari YouTube Stories ini untuk menguji terknologi tersebut secara lebih lanjut. Dengan perkembangan yang dialaminya, teknologi serupa layar hijau ini akan muncul di layanan dan aplikasi AR Google lainnya di masa mendatang.

Sebelumnya, mantan pegawai YouTube menuntut Google atas tuduhan memaksa para perekrut untuk hanya menerima pelamar kerja perempuan, berkulit hitam, atau keturunan Amerika Latin.

Ialah Arne Wilberg, orang yang telah bekerja di Google selama sembilan tahun, yang menuntut Google atas diskriminasi pada Januari lalu.

Wilberg mengklaim, Google mengimplementasikan "peraturan yang jelas dan tak terbantahkan" yang bertujuan untuk mencegah perekrut menerima pelamar berkulit putih atau Asia dengan tujuan untuk membuat pegawai Google menjadi semakin beragam.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.