Kominfo Akui Sulit Blokir Total Konten Negatif GIF di WhatsApp

Cahyandaru Kuncorojati    •    Rabu, 08 Nov 2017 16:08 WIB
kominfowhatsapp
Kominfo Akui Sulit Blokir Total Konten Negatif GIF di WhatsApp
Dirjen Aplikasi & Informatika Kominfo, Semuel A. Pangerapan usai konferensi pers yang digelar di Kantor Kementrian Kominfo hari ini (8/11/2017).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pihak WhatsApp dan Tenor sebagai penyedia kontan GIF menunjukkan langkah kooperatif dengan pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) namun rupanya langkah tersbeut belum cukup ampuh.

Dalam konferensi pers yang digelar di Medan Merdeka Barat, Jakarta hari ini, Selasa (8/11/2017), Tenor sebagai penyedia GIF tidak lagi bisa menampilkan konten dari kata pencarian yang mengarah ke konten pornografi. Hal ini diperkuat dengan demonstrasi yang dilakukan Kominfo pada situs Tenor.

Berdasarkan percobaan Metrotvnews.com di aplikasi WhatsApp, \pencarian GIF terkait konten negatif masih bisa ditemukan. Ketika diklarifikasi ke Dirjen Aplikasi & Informatika Kominfo, Semuel A. Pangerapan, dia menjawab bahwa hal ini terjadi karena adanya perbedaan akses.

Kominfo melakukan demonstrasi di aplikasi WhatsApp pada smartphone menggunakan aplikasi keyboard virtual bawaan smartphone, dan pada fitur pencarian GIF sudah tidak bisa ditemukan konten GIF yang tergolong konten negatif.

Berbeda dengan Metrotvnews.com yang menggunakan aplikasi keyboard virtual Gboard buatan Google. Terlihat jelas beberapa GIF yang tergolong konten negatif masih bisa dengan mudah dijumpai.

"Kami pasti usut, dan kami akan ambil tindakan. Tetapi, memang sulit menutup total akses ke konten negatif. Kalau ada orang niat mencari konten negatif pasti ada saja aksesnya, maka kami mengharapkan kalau ada temuan seperti hal itu mohon masyarakat aktif juga melaporkan," tegas Semuel.

Dia menganggap hal tersebut sama seperti proses pemberantasan konten negatif di internet saat ini. Menurutnya, konten tersebut meskipun diberantas akan terus ada, makanya masyarakat diminta ikut berperan aktif ketika menemukan konten negatif.

"Kami akan pelajari lagi soal akses lewat Gboard. Kami akan merespons setiap akses ke konten negatif dengan menyelidikinya dan menutupnya. Intinya kita mau konten negatif itu tidak muncul langsung ketika orang membuka layanan karena kekhawatiran ini berasal dari para orang tua. Takutnya, anak-anak buka internet bukan mau cari konten tersebut tapi malah tanpa sengaja konten tersebut muncul atau ditemukan mereka," jelas Semuel.

Dalam waktu dekat, pihak Kominfo tidak hanya gencar bekerjasama dengan Facebook, pemilik WhatsApp dan aplikasi pihak ketiga yang menyediakan konten. Mereka juga akan memanggil pihak Twitter dan Google terkait peredaran konten negatif.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.